Ceritaramlan

Hikmah Diturunkannya Wahyu Al Quran

21 Juni 2018   12:20 Diperbarui: 21 Juni 2018   12:23 784 0 0

Pembunuhan antar kaum satu dengan lainnya terjadi dimana -- mana. Apakah itu dilakukan terhadap laki - laki, perempuan baik tua maupun muda, anak - anak, dan bahkan terhadap bayi sekalipun. 

Disamping itu juga merebak keburukan -- keburukan lain, diantaranya:  perjudian, madat dan mabuk ( narkoba ) muncul  dimana -- mana. Penjarahan  terjadi  dimana -- mana.  Perkosaan terjadi  dimana -- mana, baik terhadap perempuan dewasa maupun dibawah umur. Pengrusakan terjadi dimana - mana, pembakaran terjadi dimana -- mana  baik terhadap harta benda maupun terhadap manusia hidup. 

Disisi lain, saling caci, saling hujat, saling menyalahkan, saling hasut dan perbuatan - perbuatan buruk lainnya  dikobarkan  dari  satu kaum ke kaum yang lain. Dengan tujuan berebut pengaruh dikala itu. 

Dalam situasi dan kondisi seperti itu, mereka yang merasa kuat lalu mengangkat dirinya sebagai penguasa. Dengan membuat peraturan sedemikian rupa, sebagai pembenaran perbuatannya. Bahkan tak jarang sang penguasa mengangkat dirinya sebagai penguasa alam, yang berwenang atas hidup dan matinya seseorang yang dikehendaki.

Demikian diriwayatkan dizaman ke Nabian dahulu, untuk  menggambarkan  betapa rendahnya akhlak manusia dikala itu. Karena mengingkari petunjuk Allah yang disampaikan melalui para Nabi. Bahkan ada yang menyombongkan, dengan mengangkat dirinya sebagai penguasa atas dunia ini. 

Padahal mereka  mengetahui,  telah  ada petunjuk Allah melalui Taurat yang disampaikan Nabi Musa As. Zabur yang  disampaikan Nabi Daud As. Dan Injil yang disampaikan Nabi Isa As. Namun kesemuanya diingkari, demi kepuasan diri sendiri dan kaumnya. Situasi dan kondisi sebagaimana diuraikan tersebut, diriwayatkan pada  zaman ke Nabian dahulu. Yang hingga kini dapat diketahui dan dikenal sebagai zaman jahiliyah atau zaman gelap gulita, orang menyebutnya.                                            

Dari riwayat tersebut dapat digambarkan, betapa rusak dan rendahnya akhlak manusia di zaman itu. Dan betapa tercerai berainya umat manusia dikala itu. Masing - masing kaum, memberlakukan hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang dan berhak untuk menguasainya. 

Dalam situasi dan kondisi demikian, diturunkan Wahyu Al Qur'an dan sekaligus Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dengan tugas yang amat berat, yaitu mengentaskan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang benderang.

Kata gelap gulita disini, hendaklah tidak diartikan letterlijk atau harfiah layaknya gelap gulitanya malam tanpa bulan dan bintang, lalu berubah terang benderang layaknya disiang hari. Tetapi gelap gulita disini, dimaksudkan zaman dimana perilaku/sepak terjang manusia/ orang-orangnya tidak beradab, menuju zaman yang perilaku/sepak terjang manusia/orang-orangnya beradab, singkat katanya. Surat Ibrahim ayat 1. Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. 

Atas situasi dan kondisi manusia seperti tersebut sebelumnya, Allah lalu menurunkan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Surat Al Qashash ayat 56.  Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang -- orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang -- orang yang mau menerima petunjuk.   

Lalu apa wujud petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia? Tidak lain adalah wahyu Al Qur'an, yang diturunan kepada Nabi Muhammad SAW. melalui perantaraan malaikat Jibril, dikenal sebagai ayat -- ayat Allah yang tertulis dan Jagat Raya seisinya termasuk diri manusia, dikenal sebagai ayat -- ayat Allah yang tidak tertulis. Sebagai penganut Islam, mestinya sudah mengetahui petunjuk Allah tersebut. 

Masalahnya, sudah sampai sejauh mana para penganut Islam sudah menemu-kenali, makna yang terkandung dalam petunjuk Allah tersebut. Sudah benarkah pemahaman maknanya, selama ini? Dan sudah tepatkah pengamalannya selama ini?

Penganut Islam bukan hanya orang Arab, tetapi mengapa wahyu Al Qur'an diturunkan, dengan atau dalam bahasa Arab? Namanya saja petunjuk, sudah barang tentu harus  di sampaikan dengan atau dalam bahasa kaum yang akan diberi petunjuk, agar dapat dimengerti dengan jelas. Sehingga dapat di laksanakan dengan benar dan tepat, oleh kaum yang menerima petunjuk tersebut.

Surat Fushshilat ayat 44. Dan jikalau Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan : Mengapa tidak dijelaskan ayat -- ayatnya? Apakah (patut Al Qur'an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang -- orang yang beriman. Dan orang -- orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah  ( seperti ) orang -- orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.            

Untuk lebih meyakini, mari kita simak bersama beberapa surat dalam Al Qur'an berikut. Surat Ibrahim surat Ibrahim ayat 4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Surat Yusuf ayat 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya. Surat Az Zukhruf ayat 3. Sesungguhnya Kami  menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami ( nya ).  

Lalu, bagaimana bila penganut Islam yang bukan orang Arab? Bagi penganut Islam yang bukan orang Arab seperti kita, tentunya harus menterjemahkan Al Qur'an tersebut dari bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia dan atau dalam bahasa yang dimengerti. Kemudian dikaji dengan baik dan benar, lalu diposisikan sebagai pedoman hidup, agar menjadi tuntunan keseharian kita dalam melakoni hidup, dan kehidupan di atas dunia sekarang ini.

Namun  sangat disayangkan, karena sampai saat ini pengamalan Al Qur'an baru sebatas dibaca dalam bahasa Arabnya oleh sebagian besar penganutnya, hanya karena didasari atas kata pertama ketika Nabi Muhammad SAW. menerima wahyu Al Qur'an yaitu "ikrok" ( bacalah ). Atas dasar ini mereka lalu menyimpulkan bahwa dengan membaca Al Qur'an  dalam bahasa Arabnya mendapat pahala dan masuk surga, walau tidak mengerti artinya tidak apa -- apa, kata orang ( dalihnya ).

Benarkah pemaknaan "ikrok" hanya seperti itu? Sehingga pengamalan cukup hanya dengan membaca Al Qur'an dalam bahasa Arabnya? Surat Yaasiin ayat 69. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya ( Muhammad ) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. 

Ayat ini mudah - mudahan dapat memberikan kejelasan kepada kita, bahwa sesungguhnya Al Qur'an itu merupakan pelajaran, dan bukan syair. Jadi kurang pada tempatnya bila pengamalannya hanya sebatas dibaca, dihafal dan dilagukan, layaknya sebuah syair. Kita wajib mempelajari atau mengajinya dengan baik, agar kita dapat mengetahui petunjuk-Nya dengan benar dan tepat; Dan muara akhirnya kita dapat mengamalkannya dengan baik, kedalam tingkah laku, perbuatan, dan tutur kata kita sehari -- hari di atas dunia sekarang ini. 

Untuk itu mari kita kaji Al Qur'an dengan baik, lalu mengevaluasi pengamalannya selama ini, dan sekaligus memberikan langkah tindak pengamalan yang lebih baik. Kunci utamanya, sebagai umat Islam harus berani dan jujur mengakui kekhilafan selama ini, karena tanpa itu sulit akan dapat memperbaiki diri. 

Mengingat Allah tidak akan merubah keadaan seseorang, sehingga orang tersebut merubah keadaan yang ada dalam dirinya. Surat Ar Ra'd ayat 11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Lalu bagaimana cara kita merubah keadaan yang ada dalam diri kita, dari perilaku tidak beradab menuju perilaku beradab? Tidak ada jalan lain kecuali dengan cara, meningkatkan pengajian Al Qur'an dari tingkat sareat ( lahiriyah ) ke tingkat batiniyah ( tarekat ), untuk memahami makna batiniyah setiap petunjuk Allah. Mari kita kaji bersama, tentunya dengan mengedepankan bisa merasa ( bukannya merasa bisa ), kejujuran dan menurunkan gengsi.

Perlu diketahui, Al Qur'an itu punya keunikan. Keunikannya, Al Qur'an hendaklah dibaca dari ayat pertama surat pertama, sampai dengan ayat terakhir surat terakhir secara berulang dalam bahasa sendiri dan atau bahasa yang dimengerti; Karena petunjuk yang terdapat dalam ayat dari satu surat, dengan ayat yang terdapat dalam surat yang lain, saling berkaitan, saling menjelaskan, dan saling menguatkan. Oleh karena itu diperlukan pengkajian melalui rasa yang merasakan ( Jawa = roso pangroso ), untuk mendapatkan makna batiniyahnya.

Benarkah ungkapan tersebut? Mari kita membuktikannya. Surat Al Mu'minuun ayat 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Surat Al Mu'minuun ayat 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Surat Al Mu'minuun ayat 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Begitulah rangkaian terbentuknya wadag atau jazad manusia, yang berasal dari sari patinya tanah, berupa tumbuhan dan binatang sebagai sumber makanan; Karena itu memiliki sifat -- sifat layaknya kedua jenis pembentuknya itu, misal sifat - sifat: jahil, sirik, iri, dengki, rakus, marah, malas, hasut, dan lain -- lain, dan yang oleh leluhur tanah Jawa di kenal dengan hawa nafsu yang empat yaitu: amarah, aluamah, supiah dan mutmainah

Perlu diingat, sampai disini rangkaian ayat Al Mu'minuun ayat 12, 13 dan 14 tadi, baru membentuk wadag atau jazad manusia yang sempurna, belum membentuk manusia. Karena wadag atau jazad manusia terbentuk dari sari patinya tanah yang tampak mata, maka lahiriyah manusia dapat dilihat oleh mata sebagaimana keadaan kita sekarang ini.

Sempurnanya menjadi manusia, apabila kedalam wadag atau jazad manusia tadi ditiupkan Ruh Allah kedalamnya sebagaimana difirmankan, antara lain dalam: surat Al Hijr ayat 29. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. dan surat Shaad ayat 72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Jadi wadag atau jazad manusia yang sesungguhnya merupakan benda mati tadi, setelah ketempatan Ruh Allah yang bersifat ghaib/batiniyah, menjadi hidup dan itulah yang disebut manusia; Apapun warna kulit dan bahasanya, apapun suku bangsa dan bangsanya, apapun status sosial dan agamanya, tidak di beda-bedakan. Ruh Allah merupakan sebagian dan bagian yang tidak terpisahkan dari Allah Swt. 

Tuhan Yang Maha Suci, oleh karena itu sesungguhnya manusia memiliki sifat-sifat kesucian layaknya sifat-sifat Yang Maha Suci. Atau dengan kata lain, sesungguhnya manusia memiliki sifat-sifat ke-Illahian. Surat Ar Ruum ayat 30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  

Mudah -- mudahan dari uraian tersebut, kita dapat meyakini dan bersaksi bahwa manusia itu terdiri atas 2 unsur besar, yaitu unsur lahiriyah dan unsur batiniyah, dan inilah konstitusional manusia sejati

Unsur lahiriyah berupa wadag atau jazad manusia, dengan sifat-sifatnya: jahil, sirik, iri, dengki, rakus, marah, malas, hasut dan lain -- lain,  sedangkan unsur batiniyah bersifat ghaib berupa Ruh Suci langsung berasal dari Yang Maha Suci, dan yang sudah barang tentu memiliki sifat -- sifat kesucian layaknya sifat-sifat Yang Maha Suci. Kalau boleh dinyatakan, inilah respon atas sabda Nabi: Kenalilah dirimu, niscaya mengenal Tuhanmu, atau yang bahasa Arabnya man arofa nafsahu wakot arofa Robbahu.

Namun kita harus ingat ( Jawa = eling ), keberadaan Ruh Suci terperangkap didalam sangkar berupa wadag atau jazad manusia yang ketempatan hawa nafsu. Oleh karena itu, manusia hendaklah berupaya keras agar dapat mengendalikan hawa nafsunya, sehingga Ruh Suci yang diamanatkan tidak tercemar. Dan bukan malah dikhianati, sehingga tercemari oleh hawa nafsu, yang berkiprah atas kendali iblis, setan dan sebangsanya. 

Surat Al Anfaal ayat 27.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Saudara -- saudaraku, begitulah bukti keunikan Al Qur'an. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak terjebak dengan kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini. Mari dengan mengedepankan kejujuran, bisa merasa ( bukan merasa bisa), dan menurunkan gengsi, serta menggunakan roso pangroso dalam mengkaji kitab suci, demi keselamatan dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia ini maupun di kehidupan kelak kemudian. Karena memang inilah hikmah, diturunkannya wahyu Al Qur'an.