Bang Aswi
Bang Aswi Full Time Blogger

Seorang penggila olahraga, tukang ulin, dan desainer yang menggemari dunia kepenulisan. Aktif sebagai pengurus di FLP, Admin Kompasianer Bandung, dan Ketua #BloggerBDG | Kontak: bangaswi@yahoo.com | T/IG: @bangaswi ... ^_^

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Meredam Marah ala Rasulullah SAW di Bulan Ramadan

26 Mei 2019   03:39 Diperbarui: 26 Mei 2019   04:11 326 4 0
Meredam Marah ala Rasulullah SAW di Bulan Ramadan
Ramadan Photographs | Zawaj.com

Tahun 5 Hijriyah atau 627 Masehi. Debu-debu beterbangan, memenuhi area parit yang mengelilingi kota Madinah. Pasukan berkuda kaum Quraisy dan para sekutunya berusaha mencari jalan untuk menembus parit tersebut. Abu Sufyan bersama para pemimpin dari bani Nadzir, bani Gathafan, bani Sulaim, bani Asad, bani Asyja', dan bani-bani sekutu lainnya terus memberikan semangat.

Hingga akhirnya, Amru bin Abdiwadd, dedengkot kaum Quraisy yang sangat ditakuti berhasil menembus parit tersebut. Ia adalah petarung yang kemampuan perangnya setara dengan seribu prajurit. Ia pun berteriak, "Siapa di antara kalian yang ingin berduel denganku?!" Ali bin Abu Thalib hendak bergerak maju, tetapi keburu ditahan oleh Rasulullah saw. Tampaknya beliau ingin ada orang lain yang mau berduel, bukan Ali.

Amru berteriak kembali, mengulang pertanyaannya. Lagi-lagi Ali hendak maju tetapi segera ditahan oleh Rasulullah saw. Namun tidak ada yang bergerak. Amru berteriak kembali dan tetap tidak ada yang bergerak, kecuali Ali yang langkahnya terus tertahan. "Suaraku menjadi serak, tetapi tidak ada yang maju. Bukankah kalau kalian mati katanya akan masuk surga sedangkan jika kami mati akan masuk neraka?"

Rasulullah saw. kemudian melepas sorbannya dan dipakaikan pada Ali. Beliau juga memberikan pedangnya pada sepupunya itu. Ali bergerak maju. "Demi Laata, aku tidak mau membunuhmu," ujar Amru. Ali berkata, "Hai Amru, kamu telah berjanji jika ada seseorang dari kaum Quraisy menawarkan salah satu dari dua perkara, maka kamu akan mengambilnya." Amru menjawab, "Benar. Apakah itu?"

Ali berkata, "Aku mengajakmu untuk taat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya." Amru pun membuang muka, "Aku tidak membutuhkan itu." Ali segera menimpali, "Kalau begitu, aku akan membunuhmu." Mendengar hal tersebut, Amru naik pitam. Ia pun segera turun dari kudanya dan menyembelih tunggangannya tersebut. Duel antara Ali bin Abu Thalib dan Amru bin Abdiwadd berlangsung dengan sengitnya.

Keduanya sama-sama menunjukkan kualitas seorang petempur sejati. Amru yang menjadi veteran pada Perang Badar tetapi tidak dapat mengikuti Perang Uhud karena luka-lukanya yang belum sembuh, ingin menebus dengan kemenangan pada Perang Ahzab atau Khandaq ini. Ia mengeluarkan segala kemampuannya. Hingga kemudian, ia berteriak kesakitan dan tubuhnya jatuh ke tanah.

Pahanya terkena sabetan pedang Ali. Tanpa berpikir panjang, Ali segera ingin menebas leher Amru, namun secara mengejutkan Amru malah meludahinya dengan wajah yang penuh ejekan. Seketika Ali menghentikan serangannya. Ia mundur beberapa langkah dan menundukkan wajahnya. Amru terkejut, begitu pula dengan kaum Muslimin yang menyaksikannya. Momen yang berkesan lama.

Hingga kemudian, Ali bin Abu Thalib berteriak lantang, "Allaaahu Akbaaar!" Sekali lagi sabetannya diarahkan pada Amru bin Abdiwadd. Pada saat itu juga Amru tewas di tempat. Peperangan terus berlanjut. Akhirnya, 24.000 pasukan Musyirikin harus mengakui kalah melawan 3.000 pasukan Muslimin. Siasat untuk menggali parit di sekeliling kota Madinah yang disampaikan Salman Al-Farisi terbukti ampuh.

Kaum Muslimin yang tadi menyaksikan duel sengit kedua petarung tersebut, penasaran dengan langkah mundur dan diamnya Ali bin Abu Thalib setelah diludahi Amru bin Abdiwadd. Ali pun menjawab, "Saat ia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku menunggu sampai lenyap kemarahanku dan kemudian membunuhnya semata karena Allah Swt."

MENAHAN MARAH ITU JAUH LEBIH BAIK

Marah adalah sifat dasar dari manusia. Semasa kecil, marah bisa diekspresikan dengan menangis atau melempar mainan. Namun, Islam mengajarkan manusia agar mampu mengendalikan kemarahan itu. 

\Marah selama masih batas wajar diperbolehkan, tetapi tidak boleh jika sampai menimbulkan dampak negatif. Rasulullah saw. sendiri memberikan teladan yang baik bagaimana jika beliau marah.

Rasulullah saw. marah karena beberapa hal, tetapi dapat dipastikan bahwa semua kemarahan beliau pasti berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan pribadi. Marahnya beliau dapat dibedakan dari rona wajahnya, karena kulitnya sangat bersih. Bila marah, pelipisnya memerah. Bila marah dan saat itu sedang berdiri, ia duduk. Bila marah dalam keadaan duduk, ia pun segera berbaring.

Bila Rasulullah saw. sedang marah, takada seorang pun yang berani berbicara padanya, kecuali Ali bin Abi Thalib. Meski begitu, beliau sulit sekali marah dan mudah sekali memaafkan. 

Ali juga mampu mengatasi kemarahannya saat Perang Khandaq. Rasulullah saw. mengatakan, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bergulat, tetapi mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Malik)

Pada bulan Ramadan kali ini, umat Muslimin tidak hanya diwajibkan untuk mampu menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga diminta untuk mampu mengendalikan amarahnya. 

Dalam riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridhai." (HR. Ahmad).

Tahu gak sih kalau marah berlebihan itu memberikan dampak serius pada kesehatan seseorang? Ketika marah, tubuh seseorang akan melepaskan hormon-hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika terlalu banyak, hormon tersebut dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan masalah kesehatan. Pada saat marah, jantung terasa berdebar dan bernapas lebih cepat. Ini jelas tidak baik.

Sudah dijelaskan di atas bahwa Rasulullah saw. marah bukan kalau berurusan dengan agama. Misalnya saja beliau marah saat mendengar laporan bahwa dalam medan peperangan, Usamah bin Zaid membunuh orang yang sudah mengatakan "La Ilaha illallah". Beliau juga marah ketika salah seorang sahabat merayu agar beliau jangan memotong tangan seorang wanita yang mencuri.

Rasulullah saw. marah saat melihat seorang lelaki memakai cincin emas. Beliau lantas mencabut cincin lelaki itu dan melemparkannya ke tanah. Beliau marah mendengar aduan ada sahabat yang menampar orang Yahudi hanya karena mengagungkan Nabi Musa as. Beliau pun marah kalau umatnya taksegera melakukan kebaikan atau menangguhkan sesuatu yang seharusnya diutamakan.

Apabila harus marah kepada seseorang, Rasulullah saw. taklangsung menegurnya di depan umum. Beliau takingin menjatuhkan harga diri orang yang bersalah itu. Beliau juga tak 'bermain tangan' atau menyakiti fisik. Dalam kesaksian sang istri tercinta Aisyah, beliau takpernah sekalipun memukul wanita atau pembantu. Bahkan, ia takpernah memukul apapun, kecuali jika sedang berjihad. Subhanallah.

TIPS MENAHAN AMARAH ALA RASULULLAH SAW.

Berikut adalah beberapa cara untuk meredam kemarahan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. 1). Membaca ta'awwudz. Rasulullah saw. bersabda, "Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A'udzu billahi minasy-syaithaanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)." (HR. Bukhari Muslim).

2). Berwudhu. Rasulullah saw. bersabda, "Kemarahan itu dari setan, sedangkan setan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah segera berwudhulah." (HR. Abu Dawud). 3). Mengubah posisi. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka segera berbaringlah atau tidur." (HR. Abu Dawud).

4). Diam. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Ajarilah (orang lain) dan mudahkanlah. Jangan mempersulit masalah. Kalau kalian marah, maka diamlah." (HR. Ahmad). 5). Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegang urat darah di lehernya?"

"Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan dahinya dengan tanah (sujud)." (HR. Tirmidzi). Semoga kita semua bisa mengendalikan amarah selama bulan Ramadan ini dan juga seterusnya. Marah akan menimbulkan penyesalan. Al-Khaththabi menafsirkan ucapan Rasulullah saw. pada salah seorang sahabat; "Janganlah marah dan bagimu surga." (HR. Al-Thabrani)