Astri Rahayu
Astri Rahayu

Pengajar di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

Selanjutnya

Tutup

Regional

Kuliner Ramadan Pengobat Rindu Indonesia

7 Juni 2017   08:36 Diperbarui: 12 Juni 2017   15:15 357 0 0
Kuliner Ramadan Pengobat Rindu Indonesia
Dokumentasi Pribadi

Bulan Suci sudah memasuki hari ke 12. Masyarakat muslim telah dan masih harus berjuang menjemput keberkahan Ramadan untuk 18 hari kedepan. Berbagai aktivitas dilakukan oleh sebagian besar masyarakat untuk menyemarakkan bulan ini, mulai dari pembekalan rohani dengan mengikuti kajian-kajian agama di berbagai tempat sampai mempersiapkan menu-menu puasa sebagai penyemangat dan penggugah selera setelah seharian menjalankan shaum. 

Merpersiapkan waktu berbuka menjadi hal yang juga istimewa. Kemarin, sepulang dari sekolah, penulis berkesempatan mengunjungi salah satu pusat komunitas masyarakat Indonesia yang tinggal di Malaysia untuk mencari penganan berbuka. Suatu tempat yang menjadi surga bagi para pecinta kuliner tidak saja bagi muslim Indonesia, tapi juga bagi seluruh masyarakat muslim yang sudah mengenal dan tahu bagaimana dahsyatnya cita rasa masakan Indonesia. 

Ya, ternyata banyak juga penikmat masakan Indonesia di sini karena di sini dijual berbagai macam penganan mulai dari kudapan ringan, berbagai jenis minuman sampai makanan utama untuk berbuka.Kita tak perlu pusing-pusing untuk memasak. Cukup datang saja ke tempat ini dan kita sudah bisa pulang dengan makanan yang kita inginkan. 

Memasuki kawasan Chow Kit, kita akan melihat pemandangan yang lain daripada biasanya. Di sepanjang kiri kanan pedestrian terdapattenda-tenda besar berjejer rapi. Di sini mereka menjual berbagai jenis pakaian persiapan hari raya dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, lengkap semua. Dari mulai kerudung sampai sepatu ada di sini. Pengunjung bisa memborong berbagai macam barang yang ditawarkan dengan harga yang cukup miring mengingat target pasarnya memang kalangan menengah kebawah yaitu para TKI yang bermukim di sini.

Berbelok ke arah pasar, saya menemukan hal yang lebih serulagi. Jalan besar yang biasanya dilalui oleh kendaraan kini ditutup, digantikan tenda besar bak tenda perhelatan akbar. Di situlah ternyata surga makanannya berada. Diawali dengan durian serta es cendol dan kue cincin khas betawi, saya melewati puluhan tenda makanan yang menjual berbagai jenis makanan khas Indonesia. Semakin masuk ke dalam area tenda, aroma makanan semakin menyeruak bercampur dengan kepulan asap yang berasal dari penjual sate dan ayam bakar. 

Teriakan para penjual makanan yang bersautan menawarkan makanan dagangannya menambah keseruan petualangan kuliner sore itu. Jangan ditanya harga makanannya. Mereka menjual makanannya itu dengan harga yang cukup murah, membuat pembeli semakin bersemangat untuk memborong. Mau menawar? Tidak usah cemas memikirkan bagaimana cara menawar harga makanannya. Hampir semua penjual makanan menawarkannya dalam bahasa Indonesia atau melayu. Aman..

Petualangan kuliner saya berakhir sampai waktu menjelang Maghrib tiba. Saya pulang dengan membawa dua kantong plastik besar berisi nasi Padang, gulai tunjang, ikan tongkol sampadeh, es cendol, bakwan udang dan tahu berontak. Waktu berbuka pun tiba dan kerinduan saya akan berbuka puasa di kampung halaman sedikit terobati.***

Kuala Lumpur, 07/06/2017