Yulianto
Yulianto Content Writer

Dengan menulis kau akan abadi

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Es Buah, Ceramah dan Kentut

22 Mei 2018   18:05 Diperbarui: 22 Mei 2018   18:09 1107 0 0
Es Buah, Ceramah dan Kentut
Ilustrasi: veezy.com

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam lebih sedikit waktu Indonesia bagian Timur, sebentar lagi adzan isya akan berkumandang. Di depan rumahku, sudah terlihat beberapa remaja tanggung berjalan menuju satu-satunya mushallah di kampung kami, Haqqul Yaqin namanya. 

Di dalam rumah, ibuku juga sudah menyiapkan mukenah dan sajadahnya. Aku sendiri masih memilih untuk duduk menikmati hidangan manis buka puasa buatan ibuku. Es Buah, sajian andalan ibuku setiap berbuka puasa di bulan Ramadan.

Tentang es buah itu, sebenarnya aku tak begitu setuju dengan nama itu. Setiap tahun di bulan Ramadan, hidangan itu hampir selalu menemani buka puasaku. Jadi aku tahu betul hidangan itu. 

Sungguh, bertahun-tahun kuamati hidangan itu, tak ada satu buah pun di dalamnya. Jangankan irisan daging buah, daun buah pun tak ada. Bentuk hidangannya pun tak menyerupai buah, hanya ada potongan agar-agar berbentuk kotak dengan siraman sirup DHT di dalamnya. Anehnya, seisi kampungku sepakat menamai hidangan semacam itu dengan sebutan es buah.

Es Buah (dokpri)
Es Buah (dokpri)

Celakanya, ketika suatu hari datang rombongan jemaah dari daerah lain yang hendak bersilaturahmi dengan jamaah mushallah kami di bulan Ramadan. Saat tiba waktu buka puasa bersama di mushallah, di halaman depan mushallah, seorang jamaah tamu, sebut saja pak Ismail bertanya kepada pak Amir, salah satu warga di kampungku

"Buka puasa apa hari ini di mushallah, pak?"

"Es buah pak" jawab pak Amir dengan mantap dan  tersenyum ramah.

Kebetulan aku sedang berjalan pelan di samping jamaah tamu itu. Mendengar jawaban itu, kuperhatikan air muka pak Ismail terlihat gembira.

Memasuki mushallah, pak Ismail dan rombongannya tak lupa menebar senyum ramah ke seluruh warga. Pak Ismail lalu duduk di salah satu tempat dimana hidangan buka puasa telah berjajar rapi. Sebelum duduk, kulihat perhatian pak Ismail telah tertuju kepada hidangan di depannya.

Setelah merasa nyaman dengan tempat duduknya, pak Ismail meraih hidangan di hadapannya, diaduk-aduk hidangan itu seperti sedang mencari sesuatu. Raut wajahnya pun kemudian berubah, kini menjadi kebingungan. Setelah lelah mengaduk, senyum kembali mengembang di wajahnya, sambil tertawa pak Ismail kulihat menceritakan kejadian aneh yang baru saja dialaminya kepada teman rombongan di sebelahnya. Aku yang melihat kejadian itu hanya tertawa dari jauh.

***

Adzan pun berkumandang. Kenangan yang baru saja terkenang di kepalaku pun melayang. Bergegas kulangkahkan kaki menjawab panggilan itu. Setibaku di mushallah, suasana telah riuh oleh obrolan anak-anak dan para sesepuh kampungku. Iqamah menjelang, shalat pun ditegakkan. Sehabis shalat Isya, pak Imam pun berdiri ingin menyampaikan ceramah singkatnya.

Di barisan paling belakang, anak-anak sibuk berlalu lalang. Mereka berebut pulpen dan buku amaliah Ramadan. Ketika Pak Imam akan memulai ceramahnya, seketika anak-anak pun diam, hening, serius mengamati. 

Kalimat pembuka ceramah dari pak Imam telah selesai disampaikan, ia pun melanjutkan ke bagian isi ceramahnya. Anak-anak yang tadinya diam, berubah jadi belingsatan. Mereka sibuk berbisik, memanggil dan menyahut teman-taman di sekitarnya

"Oi, apa judulnya itu ceramah?" celetuk salah satu anak yang duduk di belakangku menyahut temannya yang duduk agak jauh darinya.

Malam itu pak imam kurang peka, tak memberikan judul pada ceramahnya. Ia tak sadar bahwa anak-anak sudah menunggu sepenggal kalimat pamungkas itu yang akan mereka tulis di salah satu kolom pada buku amaliah Ramadannya, sebuah buku yang diwajibkan untuk diisi bagi anak sekolah dasar sebagai bukti bahwa mereka telah mengikuti berbagai kegiatan di bulan Ramadan. 

Akibatnya dari ketidakpekaan itu, anak-anak mulai gaduh lantaran tak tahu harus menulis apa di bukunya. Sesekali pak Ahmad, salah satu sepuh di kampungku menegur kegaduhan itu.

Beberapa menit berlalu, pak Imam pun turun dari mimbarnya. Belum genap 5 menit pak imam duduk, terdengar teriakan dari salah satu Jamaah

"Assalata sunnata tarawih rahimakumullah" sepenggal kalimat itu memecah suasana

"Assalata la ilaha illallah" segenap jamaah pria di mushallah itu menyahut gembira  sepenggal kalimat yang baru saja memecah suasana itu.

Semua orang berdiri, tak terkecuali. Sepenggal kalimat itu adalah semacam kebiasaan menggugah semangat para jamaah mushallah di kampungku untuk memulai shalat tarawih.

Kebiasaan di kampungku, tarawih dilakukan 8 rakaat, masing-masing 2 rakat dengan salam dan ditutup 3 rakat shalat witir. Shalat tarawih berjalan khidmat. Semua orang tenggelam di dalam kekhusyukan ibadah yang hanya ada di bulan Ramadan itu. Keheningan menyelimuti suasana di dalam mushalla. Saking heningnya bahkan suara yang dihasilkan semilir angin yang menimpa pepohonan di sekitar mushallah pun dapat terdengar dengan jelas.

Dua rakaat pun selesai ditutup dengan salam. Semua orang mengambil napas sejenak kemudian berdiri untuk melaksanakan dua rakaat selanjutnya. Pak Imam memulai shalat dengan suara yang lantang, shalat pun kembali dijalani dengan khusyuk.

Tak terasa, sudah memasuki sujud terakhir di rakaat kedua. Ketika semua orang sedang khusyuk menikmati penghambaan kepada yang maha kuasa, terdengar bunyi yang tak lazim memecah keheningan di malam itu

"Tuuuuuuuutttt" begitu penggambaranku mendengar bunyi itu.

Sepenggal bunyi yang tak begitu panjang dan tak sumbang. Bunyi itu cukup memenuhi standar estetika nada yang nyaman untuk di dengarkan telinga. Apalagi dengan irama yang cukup menawan, diawali dengan nada rendah kemudian meninggi. Bunyi itu bukan semilir angin, apalagi bunyi pohon yang tiba-tiba tumbang di sebelah mushallah.

Bunyi itu tak lain adalah udara yang bergerak cepat melewati dan menggetarkan lubang anus salah seorang jamaah. Untungnya bunyi itu tak menyebarkan bau yang yang tak sedap yang dapat mengganggu ibadah. 

Mendengar bunyi itu, sebagian anak tak dapat menahan tawanya. Sebagian lainnya hanya cekikikan saja. Sedangkan orang dewasa dan lansia tak bereaksi mendengarnya. Selepas shalat beberapa orang kulihat mengedarkan pandangan curiga di sekitarnya.

Sedikit khawatir, dalam suasana khidmat seperti malam itu, bunyi yang tak lazim itu dapat memecah konflik sosial. Orang-orang dapat terprovokasi untuk saling mencurigai dan memecah belah ummat. 

Beruntung kekhawatiran itu tak menjadi nyata. Seorang anak dengan wajah polos mengembangkan senyum malu di wajahnya. Ia terlihat menonjol di tengah raut wajah orang-orang yang saling mencurigai.

Patut diteladani, anak itu mengakui dengan senyum bahwa dirinya adalah pelaku penyebab bunyi yang tak lazim itu. Ia tak membiarkan ummat terpecah belah atas tindakannya. Selepas kejadian itu, shalat tarawih pun kembali dilanjutkan dengan khusyuk dan tanpa gangguan apa-apa.