endang artiati suhesti
endang artiati suhesti pegawai negeri

seorang wanita yang selalu menata hati

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menikah (3)

24 Juni 2017   23:02 Diperbarui: 24 Juni 2017   23:16 422 1 0

Gundah...galau...hambar..tak menentu...itu yang terasa..

Dua kali sudah kurasakan...saat takbir berkumandang... Bersahutan sahutan di luar sana menyambut idul fitri 1438 H ada yang kurasakan kosong...ya sedikit tapi tetap saja terasa..

Aku ( masih) saja merasa asing..aku (masih) saja merasa gundah...

Hitungan menit terasa lambat... Sehari seperti dua hari...saat matahari Ramadhan terakhir tenggelam..saat itulah kekosongan hati muncul. Sedih tidak karena aku tidak (mau) menangis). Senang juga tidak..karena matahari esok adalah matahari kemenangan... Tidak tidak tidak..ada yang terasa aneh..terasa belum sepenuhnya ditempatnya.. Ada yang berenang renang dalam pikiranku... Wajah ayah..wajah ibu...

Rasanya aku (bukan) di rumah. Walaupun aku sudah mudik. Tapi (tetap) aku merasakan kebingungan..aku tidak merasakan hari kemenangan seperti dulu...ada satu yang kurang..kelegaan sempurna.Rasanya aku tidak sepenuhnya merasakan kemenangan seperti mereka yang bertakbir...

Aku hanya bisa merasakan aku memang seharusnya ada di sini.aku bukan lagi yang dulu saat menjadi perempuan... Aku istri..dan ibu..yang sedang menjalani laku rela berkorban..

Sungguh bukan hal yang mudah...

Sungguh bukan hal yang hanya bisa ditangisi dengan air mata

Dan sungguh bukan hal yang hanya bisa di logika

Tapi ini campuran semua nya...logika..perasaan..strategi

.ketabahan..semua diramu..jadi satu...

Menikah kata orang sebagai kehidupan baru..

Yaa semua baru..baru dengan arti rela mengorbankan kehidupan lama yang bisa dinikmati seorang perempuan single..