Aris Dwi Nugroho
Aris Dwi Nugroho Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Seseorang yang selalu ingin menjadi pembelajar sejati untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Email: anugrah1983@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Belajar Menghargai Makanan di Menara Eiffel

3 Juni 2017   09:22 Diperbarui: 6 Juni 2017   17:35 689 4 2
Belajar Menghargai Makanan di Menara Eiffel
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Menara Eiffel (La tour eiffel dalam bahasa Perancis) adalah sebuah menara besi yang memiliki tinggi sekitar 325 meter dengan bobot struktur besi seberat 7.300 ton, terletak di Paris yang merupakan ibu kota dari negara Perancis. Menara tersebut merupakan sebuah bangunan tertinggi di Paris, dan salah satu struktur terkenal di dunia sehingga pantaslah dijadikannya menara Eiffel sebagai ikon dari sebuah negara yang terletak di Eropa Barat ini, yang juga merupakan destinasi wisata dunia terkenal.

Ketika berkunjung ke Perancis, selain ingin mengunjungi destinasi-destinasi wisata yang menarik, seperti Menara Eiffel, setiap orang pun sepertinya ingin menikmati kuliner negara tersebut yang disediakan oleh restoran-restoran dengan berbagai menunya. Namun, apabila seseorang pernah atau bahkan sering tidak menghabiskan makanan di piring ketika berada di sebuah restoran, jangan coba-coba lakukan hal tersebut di restoran-restoran di Perancis, karena beberapa restoran di sana akan memberikan sanksi berupa denda kisaran 5€ (euro) atau sekitar Rp. 75.000,- apabila tidak menghabiskan makanan.  

Restoran-restoran di Perancis yang memberlakukan aturan tersebut biasanya restoran yang menggunakan konsep service de buffet, yaitu suatu konsep pelayanan di mana makanan dan minuman dihidangkan dengan rapi di atas sebuah meja yang telah diset dengan baik, dan konsumen mengambil sendiri makanan dan minuman yang disukainya, atau yang dikenal di Indonesia dengan sistem prasmanan. 

Menara Eiffel Perancis, Sumber: Dokumentasi Pribadi
Menara Eiffel Perancis, Sumber: Dokumentasi Pribadi

Konsumen diberi kebebasan untuk mengambil dan menikmati hidangan yang disediakan sesuka hatinya, mulai menu pembuka, menu inti, sampai dengan menu penutup, dengan harus mengeluarkan biaya antara 10 - 15€ per orang, tanpa melihat banyak sedikitnya menu yang dinikmati konsumen. Walaupun konsumen diberi kebebasan untuk menikmati hidangan sesuka hatinya, apabila hidangan yang telah diambilnya tidak dihabiskan, masih tersisa di atas piring, maka denda akan diberlakukan kepada konsumen tersebut.

Selain itu, Perancis juga merupakan negara pertama di dunia yang mengeluarkan larangan membuang makanan kepada supermarket. Bahkan tidak hanya itu, seluruh supermarket dengan luas bangunan minimal 400 meter persegi harus melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga donor makanan. Makanan yang tidak laku dan mendekati masa kadaluarsa, atau buah dan sayuran yang tidak lagi begitu segar harus didonasikan. Pengelola yang tidak melakukannya akan tarancam denda senilai 3.750€ atau sekitar Rp. 55 juta.

Pelajaran yang sangat berharga dapat diperoleh dari kedua fenomena yang terdapat di negara Menara Eiffel tersebut di atas, di mana begitu sangat menghargai makanan, menjaga sekiranya makanan tidak sampai ada yang terbuang dengan sia-sia. Karena selain akan menyumbang limbah makanan yang akan berdampak buruk terhadap lingkungan, kepedulian sosial pun akan terbina dengan memperhatikan betapa masih banyak orang yang membutuhkan makanan di luar sana. 

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Food and Agriculture Organization (FAO), sebuah organisasi yang berada di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkewenangan mengurus berbagai hal yang berhubungan dengan pangan di dunia dan hasil-hasil pertanian, setiap tahun makanan yang dibuang di seluruh dunia mencapai 1,3 miliar ton. Jumlah yang begitu fantastis, yang akan sangat bermanfaat apabila disumbangkan kepada mereka yang membutuhkannya.

Makanan merupakan salah satu anugerah besar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Begitu pula dengan kesempatan dan gairah/nafsu untuk menikmatinya merupakan anugerah besar yang harus selalu disyukuri. Betapa banyak orang di seluruh belahan dunia yang tidak dapat menikmati anugerah menikmati makanan, entah karena sakit ataupun sedang terkena musibah kelaparan. 

Oleh karena itu, bagi seseorang yang sedang mendapatkan anugerah besar tersebut, ketika menikmati makanan yang ada, kiranya sangat perlu memperhatikan etika, dan menghargai makanan, yang di antaranya dengan tidak berlebihan dalam mengonsumsinya. Sikap “lapar mata” yang orang Perancis menyebutnya dengan istilah les yeux plus gros que le ventre hanya mengedepankan nafsu dengan melihat makanan belaka, tanpa memperhatikan kapasitas perut dan efeknya terhadap kesehatan, kiranya sangat penting untuk dihindari. 

Konsumsilah makanan dengan bersikap bijak, secukupnya tanpa berlebihan, dan kendalikan hawa nafsu dengan memperhatikan kapasitas perut dan kesehatan. Sehingga kemungkinan menyisakan makanan dan membuangnya tidak akan terjadi. Dengan bersikap demikian, keuntungan besar terkait dengan kesehatan akan diperoleh, dapat lebih menghargai makanan, dan turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Siapa lagi kalau bukan kita yang peduli terhadap diri sendiri, dan siapa lagi kalau bukan kita yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Sesuatu yang terlihat kecil dari apa yang kita lakukan, yakinilah akan berdampak besar secara global.