Ardi
Ardi Guru

Tenaga Kependidikan di SMP Ulun Nuha Medan Alumnus STAI Bahriyatul Ulum KH. Zainul Arifin Tapanuli Tengah Tahun 2012

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pendidikan Anak, Bercermin Pada Muhammad Al-Fatih

15 Juni 2017   01:44 Diperbarui: 15 Juni 2017   01:44 1621 0 0
Pendidikan Anak, Bercermin Pada Muhammad Al-Fatih
412237-4bef378c-ee04-11e4-a8b7-f46587772fba-594183d9127f6134278b4567.jpg

Terinspirasi dari obrolan ringan. Ada yang mengatakan bahwa anak sekarang dengan anak dahulu jauh berbeda. Dahulu seorang anak ditatap saja oleh orang tuanya, ia sudah tahu bahwa ia bersalah dan akan merubah sikapnya. Tapi anak sekarang tidak perduli dengan orang tua. Jikapun disuruh, tidak serta merta mereka mau melakukannya. Sikap hormat kepada orang tuanya sudah tidak ada lagi.

Sejatinya, anak terlahir ke dunia bagaikan kertas putih yang bebas di tulis dengan tinta warna apa saja oleh orang tuanya. Baik dan buruk perilaku anak tergantung pada didikan orang tuanya. Rumah adalah sekolah pertama yang ia masuki dan keluarga adalah guru pertama yang ia kenal. Pantaskah jika anak disalahkan atas prilaku yang buruk? Bahkan orang dewasa saja pun masih sering berlaku salah. Atau apakah guru yang mengajar di sekolah harus di salahkan terhadap sikap anak yang tidak menaruh hormat pada orang tua?

 

Bagaimana seorang guru di sekolah bisa leluasa mendidik anak untuk disiplin dan hormat jika ruang geraknya dibatasi. Mencubit anak karena melanggar peraturan, mencukur rambut siswa agar disiplin atau menegurnya karena suatu persoalan, semuanya itu malah berujung pidana. Miris. Inilah yang membatasi gerak guru.

Berkaca pada sistem pendidikan Islam, bahwa Rasulullah telah menyuruh anak yang berusia 7 tahun untuk sholat. Terlepas dari ia belum dikenakan beban untuk melakukan itu. Dan menyuruh memukulnya di usia 10 tahun jika masih belum sholat. Kisah suksesnya Sultan Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel juga dibangun dari kecil. Jatuhnya kota itu menjadi sejarah paling penting di abad 15 M. Bahkan peristiwa itu dapat dianggap sebagai akhir abad pertengahan di Eropa dan awal abad baru. Ayahnya Sultan Murad II menyiapkan beberapa guru khusus untuknya. Namun mereka semua gagal mengajarinya karena ia adalah seorang anak yang bandel dan tidak mau tunduk pada perintah mereka. Melihat kondisi itu, Sultan Murad II kemudian mendelegasikan tugas pembinaan dan pengajaran putranya kepada seorang ulama, Maula Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Sultan memberinya sebuah cambuk yang ia gunakan untuk memukul Muhammad jika ia membandel. Al-Kurani masuk ke dalam ruangan belajar dengan membawa cambuk itu di tangannya. Kepada pangeran Muhammad II, ia berkata:

“Ayahmu mengutusku untuk mengajar dan memukulmu jika engkau melanggar perintahku.”

Pangeran Muhammad hanya tertawa mendengar ucapan itu. Syekh Al-Kurani pun memukulkan di majelis itu dengan pukulan yang sangat keras hingga Pangeran Muhammad pun berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum usianya mencapai 8 tahun. Kemudian Syekh Al-Kurani mengajarinya ilmu-ilmu keislaman yang menjadi pegangan mayoritas ulama pengajar pada waktu itu. Kepada Maula Al-Kurani, Al-Fatih mempelajari berbagai kitab sejarah. Kecerdasannya semakin tampak dan keunggulannya semakin menonjol di antara semua pangeran. Sejak kecil, ia telah menguasai Bahasa Turki, Persia dan Arab; baik untuk kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menterjemahkannya. Lalu di masa remajanya, ia mempelajari bahasa Yunani, Serbia, Italia dan Latin. (dikutip dari buku Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel hal. 52, penerbit pustaka Al-Kautsar)

Pengajaran yang baik mulai dibangun sejak kecil di rumah yang menjadi area pertama yang ditempati sang anak. Bagaimana anak dapat bersikap hormat jika orang tua menjadikannya ‘raja’ di rumah. Hal itu juga mempengaruhinya untuk tidak hormat kepada gurunya di sekolah. Tegas dan keras demi kedisiplinan anak itu lebih baik daripada harus memanjakannya. Semoga bermanfaat.