Ardi
Ardi Guru

Tenaga Kependidikan di SMP Ulun Nuha Medan Alumnus STAI Bahriyatul Ulum KH. Zainul Arifin Tapanuli Tengah Tahun 2012

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guru Dikasuskan Demi Uang Damai

14 Juni 2017   23:55 Diperbarui: 14 Juni 2017   23:55 93 0 0
Guru Dikasuskan Demi Uang Damai
bapak-murid-dipenjara-700x329-594169e65993737042cd572c.jpg

Terinspirasi dari obrolan ringan. Ada yang mengatakan bahwa anak sekarang dengan anak dahulu jauh berbeda. Kalau dahulu anak ditatap saja oleh orang tuanya, ia sudah tahu bahwa ia bersalah dan akan merubah sikapnya. Tapi anak sekarang tidak perduli dengan orang tua. Jikapun disuruh, tidak serta merta mereka mau melakukannya. Sikap hormat kepada orang tuanya sudah tidak ada lagi.

Sejatinya anak terlahir ke dunia bagaikan kertas putih yang bebas di tulis dengan tinta warna apa saja oleh orang tuanya. Baik dan buruk perilaku anak tergantung pada didikan orang tuanya. Rumah adalah sekolah pertama yang ia masuki dan keluarga adalah guru pertama yang ia kenal. Pantaskah jika anak disalahkan atas prilaku yang buruk? Bahkan orang dewasa saja pun masih sering berlaku salah. Atau apakah guru yang mengajar di sekolah harus di salahkan terhadap sikap anak yang tidak menaruh hormat pada orang tua?

 

Bagaimana seorang guru di sekolah bisa leluasa mendidik anak untuk disiplin dan hormat jika ruang geraknya dibatasi. Mencubit anak karena melanggar peraturan, mencukur rambut siswa agar disiplin atau menegurnya karena suatu persoalan, semuanya itu malah berujung pidana. Miris. Inilah yang membatasi gerak guru. Inilah wajah baru dunia pendidikan.

Saya terhenyak saat mencari referensi kasus antara guru dan murid di mesin pencarian, google. Ada satu sekolah yang ternyata sekolah itu adalah sekolah dimana teman saya mengabdi. Kejadian ini telah berlalu 3 bulan. Sengaja disini tidak saya sebutkan nama dan tempat demi kebaikan bersama. Saya langsung konfirmasi dia untuk mengetahui jelasnya. Ia mengatakan bahwa guru itu telah diintimidasi. Mereka mengira guru itu seorang yang kaya padahal tidak. Sang guru menegurnya atas sebuah kesalahan. Ia tak terima dengan teguran yang diberikan oleh sang guru.

24-59416a1c1397738d646941a6.jpg
24-59416a1c1397738d646941a6.jpg

Mereka mengkasuskannya atas tuduhan pencemaran nama baik. Padahal guru itu juga menerima perlakuan tidak sopan dari murid. Singkatnya, mereka akan mencabut kasus itu jika ada ‘uang damai’. Jumlah ‘uang damai’ yang harus ia bayar sebesar 10 juta rupiah. Sang guru pasrah, akan di sidang atau di tahan. Yang jelas, ia tidak punya uang sebesar itu untuk membayarnya.

***

Seorang anak mulai belajar dengan meniru dari apa yang ada di sekitarnya. Orang tua dituntut menjadi teladan bagi anak agar sikap yang tercetak darinya pun teladan. Bagaimana mungkin anak akan baik perilakunya jika teladan yang diharapkan tidaklah bisa menjadi teladan. Berkaca pada sistem pendidikan Islam, bahwa Rasulullah telah menyuruh anak yang berusia 7 tahun untuk sholat. Terlepas dari ia belum dikenakan beban untuk melakukan itu. Dan menyuruh memukulnya di usia 10 tahun jika masih belum sholat. Dapat disimpulkan bahwa pengajaran yang baik adalah pengajaran yang dibangun di rumah yang menjadi area pertama yang ditempati sang anak. Bagaimana anak dapat bersikap hormat jika orang tua menjadikannya ‘raja’ di rumah. Tegas dan keras demi kedisiplinan anak itu lebih baik daripada harus memanjakannya untuk menurutinya mau makan apa atau mau gadget yang bagaimana. Inilah awal kerusakan perkembangan sikap seorang anak.

Semoga bermanfaat.