Arsad Rahim Ali
Arsad Rahim Ali Full Time Blogger

penikmat sejarah, agama, sosial, gizi dan kesehatan masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Sabar! Menunggu Si Nabung

11 Juni 2019   06:35 Diperbarui: 11 Juni 2019   14:27 37 1 0

Inilah salah satu wajah negriku, suasana mudik, di Pelabuhan Banggai. Sabar menunggu Kapal Penumpang PELNI, Sinabung namanya,  belum juga tiba, padahal tertulis di tiket kapal akan tiba di jam 2 siang, minggu 9 Juni 2019.

Ketika kutulis tulisan ini, waktu sudah menunjukan pukul 17.30. Sinabung belum juga menampakkan dirinya. Berita dari mulut ke mulut disebut akan tiba jam 6 sore, maklum berita dari mulut-kemulut lebih update, pelabuhan banggai masih di kategori pelabuhan biasa, yang penumpangnya masih penduduk lokal dan beberapa perantau sekitar pulau sulawesi.

Para penumpang ibu-ibu dan anak-anak balita yang serta barang-barangnya dengan tujuan  baubau, makassar hampir mendominasi ruang tunggu, yang berukuran 15x15 meter dan sebagian penumpang lainnya tumpah di pelataran gedung.

Terlihat, ibu-ibu saling ngrobrol, anak-anak bermain dan berlarian kesana-kemari. Para bapak-bapak saling ngrobol tentang arus mudik pasca lebaran, dengan tiket dan layanan non seat yang akan menempati ruang kosong dan lorong-lorong kapal. Para anak muda-mudi juga masih sabar menunggui sambil ngobrol ringan dan sebagian juga sibuk dengan chat media sosial dunia maya.

Saya sendiri juga sambil nulis-nulis tulisan ini masih ngobrol bersama istri dan istri dari adik yang masih setia mengantar dan menemani kami menunggu pemberangkatan Sinabung.

Saya sedikit khawatir, jika Sinabung terlambat maka akan terlambat juga berangkat, akan terlambat juga tiba di tujuan yaitu pelabuhan makassar di hari senin sebagai hari pertama masuk kantor setelah libur bersama selesai. Lebih khawatir lagi, putra sulung saya yang masih SMA, masuk di hari senin langsung dihadapkan pada ujian akhir kenaikan kelas.

Yaa... masih sabar menunggu Si-Nabung,  tidak masuk kantor di hari senin bisa minta izin via w-a kantor, ujian kelas putraku bisa ikut ujian susulan. Namun yang menjadi tanya, ketika kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 6 sore menjelang magrib Sinabung belum juga tiba.

'Ayah kapan Sinabung tiba"? Tanya istriku, saya hanya jawab ringan, "sabar saja bu, insya Allah sejam lagi".

Sejam menunggu lagi, karena sudah masuk waktu magrib saya bersegera sholat magrib, tiga rakaat jamah kashar isya dua rakaat secara berjamaah di musalah kecil 6x6 meter samping gedung ruang tungguh.

Magrib berlalu, suasana hiru pikuk para penumpang, pengantar, dan penjual asongan yang berada di dalam ruang gedung tunggu, dan yang tumpah sampai ke pelantarannya, tiba-tiba bergerak masuk ke gedung dengan turunnya hujan, semua yang berada dipelantaran masuk ke gedung ruang tunggu yang semakin memadat. Hujan berhenti setelah 30 menit berlalu, para penumpang gedung ruang tunggu kembali tumpah ke pelantaran, tiba-tiba Sinabung yang berhiaskan lampu yang ditunggu-tunggu 7 jam lalu, muncul dari balik pulau yang berada di depan pelabuhan banggai, orang-orang pada bersorak ria, "si-nabung telah datang!?". Rasa nunggu tergantikan dengan siap-siap naik kapal,  Si-Nabung dengan tenang mendekati pelabuhan. Tepat pukul 7.30 malam bertengger di dermaga banggai, menaikan penumpang lebih banyak dari yang diturunkan.

Perasaan tegang agak meninggi ketika naik tangga kapal PELNI dari bibir dermaga ke atas kapal yang terdiri dari dua tangga, tangga untuk kelas kamar dan tangga untuk kelas ekonomi. Karena waktu bertengger kapal hanya disediakan sejam dan karena penumpang ratusan dengan berbagai barang bawaannya,  yang mendapat tiket pelayanan non seat bergabung dengan pemilik tiket layanan seat mengharuskan naik kedua tangga ini agar sedik berdesak- desakan, petugas yang berjaga-jaga, hanya memeriksa tiket dan mengingatkan untuk bergerak maju dengan tidak berdesak desakan, berjalan dengan tenang dan rapi, naik anak-tangga demi anak tangga dengan pelan hingga masuk ke kapal.

Dari pintu masuk kapal, sudah terlihat para penumpang, yang mengisi ruang-ruang kosong dari pembelian tiket layanan non seat, bahkan lorong kamar kelas dua yang saya tempati sudah penuh ditempati oleh mereka dengan layanan non seat. 

Saya sangat maklumi, bukan karena mereka tidak punya uang tapi karena layanan seat ekonomi dan kelas yang sudah penuh, dan hanya kapal laut yang bisa mengangkut warga antar pulau-pulau kecil wilayah Indonesia Timur, dan tentunya kondisi kapal juga masih memungkinkan mengangkut warga, masalah yang muncul hanyalah kebutuhan air tawar yang tidak mencukupi kebutuhan penumpang, inipun masih bisa diatasi oleh pihak kapal dengan menyediakan air laut untuk keperluan mengkakus

Akhirnya, Sinabung berangkat juga meninggalkan pelabuhan Banggai, teringat 6 tahun lalu, ketika saya kunjungi daerah ini, dengan kapal yang sama, Sinabung  belum bisa bertengger dipelabuhan banggai seperti sekarang ini. Sinabungnya hanya berlabuh 100 meter dari bibir pantai dan pelabuhan kayu biasa, naik tangga kapalnya sangat beresiko jatuh ke laut.