Budi Anak Marhaen
Budi Anak Marhaen

Karena hidup itu harus merawat dan kehidupan musti dibagi enaknya untuk sesama

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Menko Darmin & Kenangan Zaman Malaise

2 Juli 2016   01:43 Diperbarui: 2 Juli 2016   02:37 103 2 1
Menko Darmin & Kenangan Zaman Malaise
Ilustrasi: www.emaze.com

SITUASI sulit akibat Malaise yang terjadi di benua Eropa yang disebabkan oleh imbas Perang Dunia Pertama terasa juga pengaruhnya ke Hindia Belanda. Ibarat pukulan telak yang membuat rakyat jelata terhuyung dan kondisi perekonomian kian terpuruk, dibarengi dengan gelombang frustrasi sosial yang terjadi dimana-mana…

Dalam situasi kalut Zaman Malaise seperti itu yang oleh lidah pribumi Zaman Malaise disebut sebagai Zaman Meleset, Sukarno menuliskannya di dalam sebuah artikelnya yang bagus, berjudul Mentjapai Indonesia Merdeka, yang terdapat di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi halaman 272.

Di dalam artikel yang menyinggung kondisi sulit Zaman Malaise tersebut Sukarno mengutip isi berita koran Pewarta Deli, terbitan 7 Desember 1932.

Bunyinya sebagai berikut:
‘’Dikota sering ada orang jang njamperin pintu bui, minta dirawat dibui sadja, sebab merasa tiada kuat sengsara. Dibui misih kenjang makan, sedang diluar belum tentu sekali sehari… Malaise heibat jang mengamuk dimana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk…’’

Ada pula laporan koran Sin Po, terbitan 27 Maret 1933, yang melaporkan tentang peningkatan aksi maling ayam di malam hari akibat kelaparan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan untuk memperoleh uang buat kasih makan keluarga.

Sementara itu koran Siang Po, terbitan 23 Januari 1933 memuat laporan dari Karawang tentang seorang ibu muda melarat yang menawar-nawarkan salah satu anaknya yang masih kecil untuk dijual kepada Tuan K.L.B, seorang warga kaya, karena berhari-hari kelaparan.

Apa yang dimaksud dengan Malaise?

Dalam buku Ensiklopedi Umum terbitan tahun 1973, Malaise berarti keadaan perasaan kurang sehat dan lesu, yang dapat mendahului timbulnya keadaan sakit yang lebih gawat.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008, Malaise ialah keadaan yang serba sulit, terutama di bidang perekonomian, atau zaman ketika dunia mengalami kesulitan, zaman serba sukar, biasanya dikatakan terhadap masa sekitar tahun 1930.

Bagaimana dengan kondisi perekonomian Indonesia hari ini?
Tentu kondisinya tidak sertamerta dapat langsung disamakan dengan Zaman Malaise seperti yang terjadi di tahun 1930-an.
Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ‘’perasaan kurang sehat dan lesu, yang dapat mendahului timbulnya keadaan sakit yang lebih gawat…’’, sebagaimana definisi dari arti kata Malaise di atas tampaknya sekarang juga dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah.

Dalam situasi seperti ini, kemana Menko Perekonomian Darmin Nasution, sang nakhoda utama pengendali situasi ekonomi nasional?

Darmin yang sebelum jadi Menko dijagokan bakal diterima pasar, diterima oleh para investor dan akan membuat happy kalangan bisnis, serta disanjung sebagai ekonom top antara lain dianggap jago dalam urusan makro ekonomi seakan-akan kini tenggelam bersama hiruk-pikuk situasi ekonomi nasional yang semakin megap-megap.

Belum lama Darmin memang bikin paket-paket ekonomi sampai berjilid-jilid seperti komik, tetapi sebagaimana dirasakan oleh rakyat; Presiden Jokowi pun merasakan bahwa paket-paket yang dibikin Darmin tersebut ternyata tidak nendang. Yang terbaru Darmin bikin Satgas Percepatan dan Efektifitas Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi yang intinya buat mengawasi jalannya paket-paket ekonomi tersebut, namun ini malah makin mengkonfirmasi Darmin gagal mengimplementasikan paket-paket ekonomi yang dia bikin.

Di lain sisi, isu-isu gawat perekonomian nasional, yang di dalam kehidupan ril berdampak langsung memukul telak perekonomian masyarakat, di media massa seolah-olah malah kena ‘’reklamasi’’ dan ketutupan oleh kasus Sumber Waras dengan peran utama Tuan Ahok, dan yang terbaru tertangkap tangannya kader SBY di Partai Demokrat, I Putu Sudiartana anggota DPR Komisi III, sampai kasus vaksin palsu yang mengerikan itu.

Sudah bukan rahasia pula bahwa menteri-menteri (tim ekonomi) di bawah asuhan Darmin banyak yang tidak sinkron, tidak ada pegangan yang tepat dan efektif untuk para menteri di bawah kordinasinya, selain itu banyak data yang tidak clear, sehingga esensinya sebenarnya Darmin harus bertanggungjawab memulihkan situasi perekonomian nasional. Darmin merupakan pembantu utama Presiden Jokowi di bidang ekonomi.

Banyak warning menyebut situasi seperti ini sangat rawan bukan saja bagi pemerintahan Jokowi tetapi juga buat rakyat yang nasibnya kian kepepet. Ada banyak gejala yang bisa dibaca bahwa Darmin dapat membawa rakyat ke dalam mirip-mirip Zaman Malaise (Malaise Versi Baru…).

Foto: antarafoto.com
Foto: antarafoto.com

Karena mengharapkan langkah terobosan dari Darmin rasanya pun sulit. Sebab pertama dari sisi karakter Darmin sebenarnya merupakan birokrat tulen yang berkarir sejak zaman Orde Baru, sehingga sebagaimana ciri birokrat cenderung lamban, bukan tipe karakter yang berpikir out of the box atau penerobos.

Syahdan menurut cerita, setiapkali memimpin meeting tim ekonomi yang terdiri dari para menteri ekonomi yang ada di bawah asuhannya, Darmin hampir tidak pernah beropini untuk merespon persoalan perekonomian nasional, konon Darmin lebih banyak bertindak mirip moderator yang lebih banyak menampung pendapat para koleganya.

Dalam situasi seperti ini untuk menyelamatkan ekonomi rakyat, tentu rakyat dan Presiden Jokowi lebih membutuhkan seorang Menko Perekonomian dengan tipe problem solver, bukan seorang moderator ekonomi, yang sekedar tukang catat dan tukang bikin kesimpulan belaka.

***