Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali
Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali profesional

Suaminya Novi, ayahnya Sheikha, domisili di kampung tengah, dekat kampung monyet, Jakarta Timur.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Perjalanan Panjang Seorang Sukadi

1 Juli 2017   22:02 Diperbarui: 1 Juli 2017   22:12 625 1 1
Perjalanan Panjang Seorang Sukadi
Pak Sukadi sedang beraksi (Dokumentasi Pribadi)

Orang Indonesia itu sebenarnya keren-keren, cuma sayangnya enggak sedikit yang merasa kalo orang Indonesia itu keren, orang Indonesia itu serba bisa dan pintar-pintar, nah, tulisan saya kali ini ingin menunjukkan salah seorang anak bangsa yang keren itu.

Kenapa keren?, Karena orang ini dasarnya bukan produk sekolah pariwisata semacam NHI, Sahid, dan sekolah tinggi pariwisata lainnya, dia cuma tamatan SMA tok. Tapi saat ini dia sudah menjadi Chef disalah satu hotel termewah di Dubai, Burj Arab, konon cuma satu-satunya hotel di bumi yang bintang nya sampe 7.

Bagaimana ceritanya Sukadi, pak Kadi kami biasa memanggilnya sehingga dapat menjadi Chef di Burj Arab?

Sehabis ngaji di majelis Matin, majelis ini numpang dirumahnya pak Kadi, hotel tempat dia bekerja memang menyediakan tempat tinggal yang sangat layak, luas dan lapang, sehingga dapat menampung jamaah pengajian.

Biasalah kami leyeh-leyeh, bercerita dan bergurau, saling curhat kadang, enggak jarang juga saling ledek, biasalah sesama penghuni gurun. 

Beberapa kali saya mendengar cerita pak Kadi tentang masa lalunya, termasuk masa-masa penuh dengan "perjuangan" ketika disepelekan, diremehkan, dan dianggap enggak bisa apa-apa hanya karena latar belakang nya.

Sebelum masuk ke dunia hotel, pak Kadi muda sempat jadi kuli di Jakarta. Beneran nguli tanya saya?, Dia menjawab, beneran, waktu itu saya belum kenal siapa-siapa di ibukota.

Lalu dia masuk kerja di sebuah hotel berbintang di Jakarta, mulai dari posisi paling bawah, kerjaanya serabutan, jadi pesuruh siapa saja.

Beruntung dia bertemu "suhu" yang tepat, yang memberikan ilmu dan ketrampilan tentang bagaimana cara bekerja sebagai "tukang roti", tapi tetep, dia harus ngerjain dan taat sepenuhnya dengan sang "suhu".

Waktu itu temen-temen kerjanya kebanyakan jebolan sebuah perguruan tinggi pariwisata terkenal di tanah air, disanalah dia merasa selalu di remehkan, enggak dianggap hanya karena cuma tamatan SMA.

Berkat semua itu Sukadi muda pun bersumpah, saya akan belajar extra keras, bekerja extra cerdas, saya akan buktikan kalo mereka salah menilai saya.

Mulai lah Sukadi masuk kerja disaat orang lain belum masuk, maksudnya dia berangkat lebih awal dan pulang paling akhir, selain bekerja dia juga Belajar, tahu sendiri orang Dapur, kalo enggak dibentak, kita yang bentak ha-ha-ha. Kerja di dapur itu keras bung!

Lambat-lambat tapi pasti Sukadi muda pun terlihat menonjol, dia yang tadinya disepelekan, mulai menunjukan kinerja yang bagus malah lebih bagus dari mereka yang tadinya menyepelekan. 

Inilah kekuatan dari 'Azam' kalo sudah bertekad, pantang surut mundur kebelakang, akhirnya ketika ada kesempatan bekerja di Dubai, pak Kadi pun berangkat lah ke negeri gurun yang memang lagi gencar-gencarnya memajukan industri pariwisata nya.

Di Dubai pak Kadi berjumpa dengan para pekerja dari seluruh dunia tidak terkecuali dari benua Eropa, orang barat kita biasa memanggilnya, biasanya enggak semuanya sih, orang kita kalo sudah lihat orang barat yang badannya tinggi besar, hidung mancung langsung ciut nyalinya, merasa bahwa orang barat lebih pintar, lebih berkelas dan lebih-lebih lainnya.

Tapi itu tidak berlaku bagi Sukadi, dia berani beradu lihai dengan orang barat, enggak cukup beradu lihai dia juga beradu lidah alias bertengkar dengan orang barat sesama pekerja hotel kalo dilihatnya orang barat itu salah. 

Jadi, kalo ada orang Jawa yang berani marahin orang Barat, pak kadilah orangnya ha-ha-ha. Tapi marahnya pak Kadi berbasis kepada pengetahuan sekaligus pemahaman yang kuat bukan sembarang marah.

Bersama AA Gym di Abu Dhabi (Dokumentasi Pribadi)
Bersama AA Gym di Abu Dhabi (Dokumentasi Pribadi)

Apa pelajaran yang didapat dari kisah pak Sukadi ini?

Anda sendirilah yang menyimpulkan, saya cuma menjadi "pencerita" saja, kebetulan yang saya ceritakan adalah orang-orang yang keren, yang saat ini bersama saya sama-sama menjadi bagian dari pekerja Indonesia yang menetap di Dubai.

Oiya, selain bekerja, pak Kadi juga aktif di majelis Matin, dia juga menjadi salah satu pendiri majelis Matin. Jadi, sosok ini menurut saya pribadi, adalah sosok yang menginspirasi. 

Selamat malam Minggu...