Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali
Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali profesional

Suaminya Novi, ayahnya Sheikha, domisili di kampung tengah, dekat kampung monyet, Jakarta Timur.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Mendadak Arab

4 Juli 2017   06:41 Diperbarui: 4 Juli 2017   06:45 419 1 0
Mendadak Arab
Dengan sahabat dari Yaman / dokumentasi pribadi

" Hepi Milad ya", "Syukron Akhi", "Syukron Ukhti", "Ila Liqo..", adalah kata-kata yang sering saya lihat  berseliweran di FB rekan-rekan yang sedang bersemangat belajar bahasa Arab, saya bersangka baik saja bahwa mereka sedang belajar membiasakan diri untuk lebih mengenal bahasa Arab. Sesuatu yang bagus bukan?

Bahasa itu kebiasaan lho, mengapa kita menjadi sinis kepada rekan-rekan yang "meng-Arab" tapi menganggap biasa saja temen-temen yang "Meng-Inggris"?, Kita labeli temen-temen yang ber-akhi dan ber-ukhti dengan label inilah, itulah, menganggap mereka udah beginilah, begitulah.

Kosa-kosa kata Arab Sebenarnya sudah lama merasuki kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari Pancasila, sila aja cek, apalagi di sila ke 4. Alhamdulillah misalnya, tidak hanya diucapkan oleh orang-orang Islam, saya kenal orang Tiongkok, dia penganut agama Budha, kalo sedang mendapat rejeki, dia suka mengucap Alhamdulillah.

Selain dalam ranah bahasa, pesona budaya Arab juga sudah merambah wilayah busana, dalam hal ini busana Pria, kalo busana muslimah (Jilbab) itu bukan budaya Arab, itu adalah bagian dari ajaran Islam.

Saat ini, apalagi saat lebaran, semakin banyak pria yang berbusana Arab, baju panjang yang elegan, apalagi kalo warnanya putih, ditambah aroma minyak wangi, jenggot  yang rapi, kalo ngomong pake Akhi, Antum dan Aamiin Ya Robb.

Ini bukan persoalan latah, tapi persoalan rasa, mereka yang meng-Arab merasa sesuatu yang membuat mereka lebih nyaman, lebih dekat kepada Tuhan dan itu sah-sah saja menurut saya pribadi.

Herannya, ada yang menganggap mereka yang lagi suka dengan "Aroma" Arab adalah orang yang tidak punya nasionalisme, baju Arab mereka persoalkan tapi kepada rok mini mereka bungkam. Mengapa?

Sebagai orang Indonesia yang saat ini tinggal di sebuah negeri Arab (Uni Emirat Arab), saya melihat orang-orang Indonesia yang meng-Arab adalah orang-orang yang baik, mereka hanya ingin mengekpresikan sesuatu yang mereka sukai, dan itu sah-sah saja kan?

Ala kulli haal, eh, jadi ikutan meng-Arab ha-ha-ha, kita semua saat ini enggak bisa lepas dari  Aroma Arab, Barat, Tiongkok, Korea, Jepang, ngaku aja deh.

Oiya, ngomongin Arab, apakah ada orang Arab yang sudah meng-Indonesia? Banyaklah, ada Anies baswedan, Ahmad Albar, Ali Alatas, Habib Rizieq Shihab, Habib Quraisy Shihab, dan masih banyak lagi, apakah mereka ngomongnya pake akhi, ukhti dan Antum?

Sependek pengetahuan saya, hanya habib Rizieq yang suka pake Antum....kalo Ahmad Albar bagaimana? Entahlah...