Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali
Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali profesional

Suaminya Novi, ayahnya Sheikha, domisili di kampung tengah, dekat kampung monyet, Jakarta Timur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Bersahabat dengan Teman Syiah, Mengapa Tidak?

1 Juli 2017   01:28 Diperbarui: 2 Juli 2017   19:01 1820 5 2
Bersahabat dengan Teman Syiah, Mengapa Tidak?
Patung orang Arab di Dubai (Dokumentasi Pribadi)

Paling enak memang menuduh seseorang dengan tuduhan Syiah, mengapa? karena Syiah itu punya Taqiyah, sehingga kalo pun yang tertuduh jelas-jelas Sunni, maka yang menuduh tetep keukeuh dengan alasan sang tertuduh lagi mengamalkan Taqiyah. Repot kan?

Bagi saya pribadi, kagak tahu orang lain, siapapun bebas meyakini apa yang pengen dia yakini, mau dia Syiah, Budha, Hindu, Kristen, bahkan enggak beragama pun, enggak jadi soal, namanya juga keyakinan, masa harus dipaksa-paksa.

Tidak seperti di Dubai, penganut Syiah di tanah air, belum bisa bergerak "bebas". Mereka belum bisa salat di Istiqlal, misalnya, bayangin ada orang sholat di Istiqlal sambil bawa tanah Karbala (tanah keras imut, biasanya bentuknya bulat). Kalo enggak ada tanah Karbala, penganut Syiah menggunakan tisu sebagai alas sujud.

Kalo di Dubai saya udah berapa kali melihat penganut Syiah yang sholat di musala umum, biasanya yang berada di mal-mal. Biasa aja, enggak ada yang usil tuh.

Ngomongin Syiah, saya jadi Inget dengan Husein orang Pakistan, dia temen satu kerjaan. Tadinya dia mengira saya juga Syiah, hanya karena nama saya Ali. Kalo dia mau salat, dia bergerak dulu ke arah rak buku, ternyata dia menaruh tanah Karbala-nya di sana.

Karena dia Syiah, dia kagak pernah ikut berjamaah, salatnya agak kebelakang, kalo saya perhatiin, emang ada perbedaan dalam tata caranya sholatnya.

Sepanjang pertemuan dan persahabatan saya dengan teman-teman Syiah, saya belum melihat dengan mata kepala sendiri, mereka menjelek-jelekkan sahabat. Mereka juga membaca kitab suci Al-Quran yang sama.

Isu Syiah sebenarnya isu lama. Jika ada seseorang atau sekelompok lagi sebel dengan figur ustaz atau tokoh agama, misalnya, maka dicarilah ciri-ciri atau kesamaan tokoh tersebut dengan Syiah. Kalo enggak ada tanda-tanda ke-Syiah-an tetep saja ditelusuri, ok lah bukan Syiah tapi minimal pendukung Syiah. Serba salah memang. 

Sekali lagi, bagi saya pribadi, Syiah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, kalo memang keyakinan udah kuat, mau seribu atau malah sejuta pendakwah Syiah nyeramahin dan mengajak saya masuk Syiah, tetep bakalan saya tolak. Menurut saya, Sunni adalah yang pilihan pertama dan terakhir. Insya Allah.

Walaupun demikian saya enggak membuat "tembok" kepada penganut Syiah, karena berkawan, enggak mengenal ras dan keyakinan. Masa kalo mau berteman, ditanya dulu, kamu dari suku apa, Syiah atau Sunni, Kristen atau Budha? Ribet banget kelihatannya.

Di Dubai, Syiah enggak dikejar-kejar, enggak dianggap kriminal, mereka punya tempat beribadah sendiri, bebas mau beribadah sesuai dengan kecenderungannya. Emang sih, saya belum pernah melihat penganut Syiah di Dubai memperingati peristiwa Karbala, "melukai diri sendiri" di jalan-jalan sebagaimana biasa di lakukan di Iran.

Di tanah air penganut Syiah makin lama makin banyak. Mereka tertarik menjadi Syiah, bisa jadi diawali oleh rasa penasaran, kemudian membaca buku-buku tentang Syiah, mulai mengikuti pengajian Syiah, merasa tenang dan nyaman dalam mencintai ahlul Bait. Adalah proses-proses yang dilalui sebelum seseorang memutuskan untuk menjadi Syiah, enggak bisa langsung ujug-ujug.

Kembali ke Husein, temen Syiah saya asal Pakistan, kami tidak pernah berbicara soal keyakinan masing-masing. Saya dan Husein adalah pendatang di Dubai, sama-sama dalam posisi mencari nafkah buat keluarga, sama-sama stres kalo pekerjaan numpuk, jadi kalo mau dicari persamaan bakalan banyak deh, sedangkan masalah dia Syiah dan saya Sunni, sekali lagi, itu adalah pilihan pribadi masing-masing.