Ahmad Imam Satriya
Ahmad Imam Satriya Guru

mencintai 4 wanita cantik Rizka, Adzra, Rania, Alida, dan menyayangi satu anak laki-laki ganteng, Yasser! Seorang guru. Pemerhati humaniora. Paling senang berada di tengah keluarga dan di dalam kelas belajar bersama siswa. Pemain bola favorit Mohamed Salah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bukber di Pos Satpam!

2 Juli 2016   05:41 Diperbarui: 2 Juli 2016   08:18 43 0 0
Bukber di Pos Satpam!
Persiapan buka puasa di pos satpam, foto pribadi

Bukber saya kali ini dilakukan di pos satpam, bukan karena tertangkap tangan pakai sendal orang terus ditahan di pos satpam lho, bukan juga gegara naik motor keujanan terus berteduh di sana, bukan pula karena nunggu bang ojek terus ikut berbuka. Bukan, bukan karena itu! Buka puasa bareng ini murni dari hati karena kami memang ingin bukber di pos satpam, bukan di mall bukan juga di resto apalagi di cafe! Tetapi di pos satpam! (Orang yang aneh ya, masa bukber di pos satpam)

Jadi begini, kenapa kami mengadakan bukber di pos satpam? Pos satpam ini adalah tempatnya para satpam (ya iyalah, masa tempatnya para blangwir). Nah para satpam ini adalah teman-teman saya yang setia menjaga sekolah walau liburan tiba. Ga percaya? Coba aja cek ke MAN Insan Cendekia Serpong (inget ya MAN bukan SMU, nanti bisa kecele kalo ke SMU), sekolah berasrama di Serpong Tangsel, tepatnya daerah Taman Tekno. Nah para satpam ini ga ikut libur seperti lainnya tetapi tetap kerja secara bergantian, menjaga sekolah kami, termasuk pas lebaran nanti! Benar-benar berdedikasi!

Oleh karena itu, untuk menunjukan rasa simpati dan respect pada mereka, kita adakan bukber di pos satpam, biar lebih khusyuk dan lebih bisa merasakan bagaimana rasanya bekerja di sana, bisa merasakan menjaga pos satpam walau cuma sebentar, bisa merasakan bagaimana rasanya nongkrong di pos melihat tamu hilir mudik. Kira-kira begitu deh. Yang biasanya kita lewat doang dengan mengulurkan tangan atau berteriak menyapa, “Assalamualaikum!” atau “Hoi pulang dulu ya!” saat masuk dan pulang kerja, sekarang kita ikut nongkrong dan menjaga.

Sepintas memang terlihat kerjaan para satpam ini simpel, enak, dan tinggal duduk di pos, tetapi ternyata tugas itu tidak mudah. Nongkrong di pos satpam bisa membuat kita jenuh, bisa membuat kita mati gaya, bisa membuat kita ngantuk! Kalo ga sakti-sakti amat bisa seminggu sudah nyerah! Belum lagi harus ngider setiap jam sekali ngelilingin sekolah yang berhektar-hektar ini, memastikan semuanya aman, memastikan lampu mati, dan memastikan keran air tidak terbuka, tidak terbuang percuma serta memasikan pintu-pintu dikunci. Apalagi kalau ada panggilan menangkap ular, waduh bisa pingsan duluan!

Hidangan berbuka, foto pribadi
Hidangan berbuka, foto pribadi

Setelah kami rembukan di siang hari, akhirnya diputuskan di hari terakhir kami kerja sebelum lebaran, kami harus bukber di satpam. Walaupun masih di lingkungan tempat kerja, tetapi acara ini ga resmi, saya datang pakai kaos, sandal jepit, dan celana tiga perempat, sambil membawa ayam keremes buatan istri dan es batu tiga plastik, naik motor dari rumah. 

Kami yang datangpun sukarela, jumlahnya kira-kira enambelas, cuma kami yang kebetulan suka dengan para satpam yang kekar-kekar dan ganteng-ganteng ini yang hadir. Ada karyawan administrasi Pak Jalal, Jamingan, Syahril, Sopian, Iwanto dan Mahmur yang katanya rajin bukber di kaefce, ada guru, Agung, Deni, dan saya, ada sopir, Yopi, dan tentunya teman-teman satpam, Juadih, Dodi, Robi, Didi, Saepul, dan Nana.

Agar lebih berbobot dan berkesan, sebelum berbuka, di sore hari, kami silaturahmi dulu ke tempat almarhum Bang Ambon, satpam kami yang telah lebih dahulu dipanggil ke Rahmatullah. Kami patungan dann juga keliling ke teman-teman yang lain mencari THR untuk keluarga almarhum. Alhamdulillah, perjuangan kami dapat hasil jutaan untuk anak istri Bang Ambon, semoga berkah dan manfaat.

Suasana setelah magriban, foto pribadi
Suasana setelah magriban, foto pribadi

Selanjutnya, berhubung yang namanya buka puasa butuh makanan dan minuman untuk berbuka (ya iyalah, masa pakai pentungan), kamipun harus menyiapkannya. Beruntung ada beberapa orang donatur, hamba Allah yang tidak ingin disebut namanya dalam tulisan ini, memberikan beberapa uang kertas berwarna merahnya pada kami untuk modal membeli makanan dan minuman secukupnya: cukup gorengannya, buahnya, kolaknya, es buahnya, teh kemasannya yang plastik dan yang kotak, kurmanya, nasi padangnya, otak-otaknya, lontongnya (buset banyak bener ya) dan lain-lain. Alhamdulillah.

Sebelum berbuka, kami ingin ada kultum, namanya juga kegiatan ibadah buka puasa, namun ketika yang diamanatkan yaitu Pak Jalal, ga siap, kultum akhirnya disampaikan oleh Ustad Nana, satpam yang konon biasa kasih ceramah di mana-mana. Kultum beliau berjudul “Makhruh”. Alhamdulillah kamipun senang karena beliau pandai menyampaikan kultum yang serius menjadi penuh canda tawa, walau kultumnya singkat banget, tepat sebelum azan magrib. Oiya, kami juga sempatkan bagi-bagi takjil pada orang yang lalu lalang di gerbang sekolah kami, seperti Bu Sari, perawat di poliklinik kami yang penuh dedikasi.

Selera makanan berbuka teman-teman ternyata berbeda-beda. Ada kelompok pemakan gorengan, nah ini yang mendominasi, ada yang manis-manis, termasuk di dalamnya saya (hehe), ada yang suka langsung makan nasi, dan ada juga yang langsung kongkow-kongkow ngobrol sana ngolor ngidul di samping pos. Yang suka gorengan ciri-cirinya selalu siap dengan cabe dan sambel pedesnya di mangkok kecil, yang suka manis-manis biasanya pendiam dan pemalu, dan yang suka nasi biasanya bertampang laper!   

Sholat magrib berjamaah, foto pribadi
Sholat magrib berjamaah, foto pribadi

Alhamdulillah, meskipun banyak makanan buka puasa yang menggiurkan dan memberatkan perut serta langkah kami, kami tetap ingat sholat magrib. Kamipun sholat berjamaah di masjid sebelah yang ditinggalkan siswa pulang kampung. Dalam suasana remang-remang, kami tetap khusyuk. Setelah sholat, kegiatan bukber kami lanjutkan dengan madang, makan padang, besar!  Alhamdulillah rekan-rekan senang. Ustad Nanapun melanjukan ceramahnya sampai waktu isa tiba. Setelah itu sebagian kami ada yang sholat tarawih berjamaah di masjid, ada juga yang pulang karena rumahnya jauh.

Kami berharap, momen kebersamaan ini terus berlanjut di pos satpam, pos yang menjadi teras rumah kami, tempat kami berteduh di kala hujan, tempat nunggu ojek jemputan, tempat curhat dikala bete, dan tempat berbuka di bulan puasa di bulan Ramadhan ini. Insya Allah.