Agus Oloan
Agus Oloan Penulis Lepas di Kompasiana

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Regional

Tips dan Trik Mudik yang Cerdas dan Aman

27 Mei 2017   23:52 Diperbarui: 27 Mei 2017   23:57 250 0 0
Tips dan Trik Mudik yang Cerdas dan Aman
Mari Mudik Gratis bareng Kemenhub. (sumber: mudikgratis.dephub.go.id)

Indonesia sangat beda dengan kebanyakan negara-negara di dunia, terutama dalam hal musim. Jika di negara lain, khususnya di negara-negara Eropa kita hanya mengenal empat jenis musim, mulai dari musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Beralih ke sebelah Asia, maka musim yang terkenal adalah musim kemarau dan musim hujan yang tentunya juga ada di Indonesia. Tetapi bukan masyarakat yang heterogen katanya apabila masyarakat kita mengartikan sesuatu itu dengan gaya yang berbeda. Pengertian musim menurut wikipedia adalah salah satu pembagian utama tahun, berdasarkan bentuk iklim yang luas. Namun, kita mempelesetkannya menjadi banyak musim.

Seiring banyaknya fenomena musiman, maka istilah musim pun banyak, ada musim buah, kala durian ucok dibanjiri pelanggan kota medan dan sekitarnya, hingga bisa diekspor ke mancanegara, pun jeruk yang harganya bisa sangat miring sekali (bayangkan 10 ribu bisa sampe 3 kilo), buah naga yang sangat diminati karena bisa mematikan banyak penyakit, hingga buah-buahan lainnya yang bisa didapat dengan harga sangat murah. Ada musim pilkada/pilpres/pilgub, saatnya kita gontok-gontokan, bersaing dalam koridor demokrasi yang bisa sampai kebla-blasan, dimana para calon berlomba-lomba mencetak dan memasang baliho, spanduk, kostum hingga kartu nama yang seakan-akan sangat menguntungkan tukang sablon ataupun percetakan, tetapi apa daya? Panjar tidak kunjung dilunasi timses ataupun calon karena si calon kalah sehingga lari dan utangpun tidak terbayar.

Kala musim pilgub usai, kini kita dihadapkan pada musim mudik. Yah, saatnya bicara mudik kemana? Dengan siapa? Dan pakai apa? Untuk merayakan lebaran yang sudah di depan mata. Dalam setahun, dua kali musim mudik akan kita hadapi dan mudik lebaran adalah yang paling menyita waktu, perhatian dan seharusnya sangat memuaskan karena mudik lebaran jangka waktunya lebih lama dari mudik saat akhir tahun. Mudik, menurut KBBI adalah, pulang ke kampung halaman. Jadi, mudik adalah kegiatan kembali ke kampung halaman dari perantauan, sehingga proses ke kampung halaman ini membutuhkan moda transportasi, apakah lewat jalur darat, udara ataupun laut? Dan mudik sudah menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari diri kita sebagai bagian dari keluarga, masyarakat hingga bernegara.

Walau mudik lebaran identik dengan Idul Fitri, namun moment ini dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat yang ingin bersilaturahmi, terlebih-lebih berlibur dan berkumpul dengan keluarga inti di kampung halaman untuk merayakan moment kebersamaan dan kebahagiaan bersama. Namun, terkadang moment kebahagiaan yang bakal diharapkan bisa berujung pada berita dukacita saat perjalanan mudik oleh karena kecelakaan yang bisa terjadi karena banyak faktor. Mudik dan keselamatan menjadi hal yang paling utama dan pertama ditekankan oleh pemerintah dalam upaya menekan angka kecelakaan saat mudik baik itu lewat jalur darat, laut bahkan udara.

Masih segar diingatan, Januari lalu terjadi kecelakaan yang merenggut 9 nyawa yang terjadi di desa tanjung beringin, kecamatan sumbul, dairi. Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Medan menuju Sidikalang dengan niat untuk mudik dan tahun baruan dengan keluarga di kampungnya, sementara kondisi alam dan jalan lintas sumatera yang sempit dan menikung serta aspal jalan yang rusak, sementara di daerah kami tersebut ada beram jalan yang berakibat timbulnya gorong-gorong yang tidak terlihat karena tergenang air, mengakibatkan mobil tersebut langsung terbalik ke arah kolam sedalam lima meter (sumber: tribunnews.com).

Kasus diatas hanyalah bagian kecil dari kasus-kasus kecelakaan besar lainnya saat mudik, baik itu mudik disaat tahun baru, maupun mudik saat lebaran yang tentunya volume maupun intensitasnya lebih tinggi. Angka kecelakaan terus meningkat, tahun 2016 menjadi 105.374 kasus dari 98.9770 kasus di tahun 2015 (kompas.com), yang artinya bahwa sudah saatnya para pelaku mudik dengan pemerintah berkolaborasi untuk mengutamakan keselamatan saat mudik lebaran ini demi menekan angka kecelakaan, mengendalikan volume kendaraan di jalan raya dan mengoptimalkan pelayanan untuk peningkatan keselamatan selama mudik.

Tahun 2017 ini, Kementerian Perhubungan selaku “pengatur” tata cara berkendara dan berlalu lintas di Indonesia sesuai dengan UU no 22 tahun 2009, melakukan evaluasi mudik gratis tahun 2016, dimana target mereka adalah pengurangan penggunaan sepeda motor saat mudik ke kampung halaman, karena memang sepeda motor sangat rawan mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Rata-rata pertahunnya, jumlah kecelakaan lalu lintas 72% didominasi oleh sepeda motor, inilah yang membuat kementerian perhubungan melakukan terobosan mudik gratis dengan sasarannya para pengendara motor yang mudik dengan menyediakan pengangkutan menggunakan moda transportasi truk, bus, kereta api hingga kapal laut demi kenyamanan dan keamanan para pengendara motor selama mudik. Sebab menurut data sebaran arus lalu lintas keluar di jabodetabek saja pengguna sepeda motor akan meningkat hingga 24% dari tahun lalu. Oleh karena itu dalam paparannya, kementerian perhubungan telah menambah sarana, diantaranya: Bus naik 2,312 dari tahun lalu, kapal Ro-R0 & LCT, naik menjadi 200 kapal dan 2 unit disiapkan untuk penyeberangan jarak jauh (LDF), Pelni dan sejenisnya juga disiapkan menjadi 1,278 kapal, kereta api juga disiapkan lebih banyak yang tujuannya hanya demi keamanan dan kenyamanan para pemudik.

Peran teknologi juga dikembangkan demi memberikan pelayanan maksimal, dengan aplikasi yang “real time” dan dapat diakses secara online maupun offline. Pun dengan sosialisasi dan pemberitahuan yang jor-joran, maka sangat diharapkan para pemudik yang biasa menggunakan sepeda motor ataupun yang suka ngerental mobil, bisa memanfaatkan program “Angkutan Sepeda Motor Gratis” ataupun “Mudik Gratis” bareng Kemenhub. Gimana caranya? Cukup simpel, langsung kunjungi Portal Kemenhub lalu ikuti panduannya. Simpel kan?

Dengan program ini, Kemenhub, Budi Karya Sumadi berpendapat bahwa mudik gratis tahun ini bisa mengangkut 208.435 penumpang serta 44.721 sepeda motor ke daerah tujuan masing-masing sehingga keselamatan saat mudik dapat terjangkau dengan baik dan keluarga yang dikunjungi merasakan kebahagiaan saat menyambut kita, bukan berakhir dengan tragis. Namun, apakah dengan program ini masalah akan teratasi? Apakah program ini menjangkau seluruh kawasan tanah air?

Setidaknya kontribusi dari Kemenhub ini sedikitnya bisa membantu para pengendara sepeda motor mencari solusi atas kegamangan dan ketakutan akan ancaman keselematan yang selama ini sudah semakin meresahkan. Banyak faktor yang harus diperhitungkan sewaktu melaksanakan mudik di masa lebaran. Disamping masalah rute yang tidak kita ketahui pasti bagaimana kondisinya? Juga masalah cuaca yang ekstrim, belakangan ini kita dihadapkan pada kenyataan akan maraknya aksi kejahatan di jalan raya yang dilakukan oleh sekelompok orang bernama ‘genk’ dan ‘begal’ yang semakin merajalela dan tidak terkontrol lagi. Sekarang kita dihadapkan pada kenyataan, “lebih takut begal daripada hantu”. Kalau berkendara dengan roda dua, apalagi perginya malam-malam, maka nasehat yang paling ditakuti adalah seperti ini bunyinya, “Hati-hati, begal ada dimana-mana”. Pun dengan kondisi mudik lebaran sekarang. Pastinya tingkat kejahatan semakin tinggi, oleh karena itu saat mudik, beberapa tips berikut sangat perlu untuk diperhatikan:

Pertama, jikalau memang harus mengendarai sepeda motor, pastikan berangkatnya jangan terlalu sore, malam atau dini hari. Tapi berangkatlah pagi-pagi sekali, dan perhatikan jarak tempuhnya sehingga bisa kita memperkirakan sampai di tujuan tidak terlalu malam. Ini sangat penting karena dari pagi hingga siang atau sore hari, begal tidak berani turun gunung. Saat berkendara juga, pastikan jangan terlalu banyak membawa barang, bekal secukupnya saja dan yang dibonceng itu tidak boleh lebih dari satu, dengan catatan balita Cuma satu orang.

Kedua, taati rambu-rambu lalu lintas, jangan ngebut, periksa kendaraan dengan baik, apalagi saat berkendara sering-sering melihat kaca spion dan jangan mencoba-coba untuk mendahului kendaraan lain, kecuali saat jalan lintas sepi. Jika dibutuhkan, seringlah beristirahat, melepas penat dan jangan menggunakan ponsel.

Ketiga, belajarlah menjadi orang yang sabar, karena dipastikan dimana-mana macet. Kenali rute dengan baik, saat beristirahat sering-seringlah berkomunikasi dengan teman atau keluarga bagaimana kondisi jalan raya menuju kampung halaman atau tempat yang dituju sehingga kita dapat berhati-hati.

Jika hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka dipastikan mudik kita akan bahagia, selamat sampai tujuan tanpa kekurangan suatu apapun. Memang kalau sudah naas itu, dimanapun dan kapanpun, jikalau memang terjadi bakalan terjadi dan kecelakaan terjadi oleh karena banyak faktor. Bisa karena kelalaian, faktor jalan raya, faktor cuaca, semisal yang dialami oleh pesawat naas MH370 yang sampai sekarang belum tau dimana rimbanya. Bisa karena faktor kendaraan yang tidak diperiksa, faktor kelalahan, hingga karena pengguna jalan raya yang lain lalai. Namun, apapun itu, intinya ada dalam diri kita sendiri? Apakah pengen mudik dengan nyaman dalam artian menggunakan moda transportasi yang disediakan oleh pemerintah? Atau dengan menggunakan sepeda motor tanpa memperhitungkan jarak tempuh atau mana lebih banyak faedahnya atau resikonya? Pilihan ada ditangan kita.