Muhammad Sadam
Muhammad Sadam Konsultan

I love competitions—the ones that are open, free, and fair for everyone, and I mean, EVERY ONE | Racists, Sexists & Homophobes... STAY AWAY from my page!

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Budaya "Mendengarkan Radio", Sandiwara Radio, dan Aksi Siaga Bencana

1 Juli 2017   12:03 Diperbarui: 1 Juli 2017   12:09 614 1 0
Budaya "Mendengarkan Radio", Sandiwara Radio, dan Aksi Siaga Bencana
Banjir di Kota Kendari (foto: SultraKini.com)

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terus bergerak secara eksponensial, akan tetapi radio tetap menjadi salah satu media komunikasi yang cukup eksis. Saya sendiri tidak pernah tidak mendengarkan radio dalam sehari. Sebuah kebiasaan yang sudah terbangun sejak kecil di dalam keluarga saya.

Sejak kecil setiap pagi ketika bangun shalat subuh, ayah dan ibu saya pasti sudah menyalakan radio dan mendengarkan siaran berita lokal dari RRI di daerah kami. Sore hari mendekati maghrib, mereka akan kembali menyalakan radio dan mendengar siraman rohani sore yang diikuti oleh siaran berita kejadian-kejadian hari itu.

Kini ketika sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, kebiasaan itu pun tidak pernah hilang. Channel radio mungkin saja berganti di pagi dan sore hari, akan tetapi kebiasaan mendengarkan radio itu sudah benar-benar menjadi bagian dari “budaya” saya sendiri yang tidak akan pernah bisa saya tinggalkan.

Berangkat ke kantor, saya akan menyumbat kedua kuping saya dengan headset, mendengar siaran radio yang tidak hanya menawarkan hiburan musik, atau komedi pagi, tetapi juga berita lokal dan internasional yang paling update. Dan salah satu informasi yang paling sering saya dapatkan dari radio adalah informasi bencana alam.

Indonesia merupakan Negara yang sangat rawan bencana alam. Lebih dari 150 kabupaten/kota dengan penduduk lebih dari 60 juta jiwa berada di zona bahaya tinggi. Maka tindakan preventif dan mitigasi bencana menjadi hal yang harus diperhatikan oleh warganya. Dan radio menjadi salah satu media untuk mengkomunikasikan hal itu.

Sebelum kehadiran facebook, twitter, dan selainnya, radio menjadi satu-satunya “alarm” saya yang memberitahu lokasi-lokasi banjir di Jakarta. Tidak hanya itu, informasi lalu-lintas pun hanya bisa kita peroleh melalui radio ketika berada di jalanan. Dan kini bahkan dengan eksistensi media sosial, radio tetap bisa menjalankan fungsi informatifnya tersebut, bahkan arguably menjadi jauh lebih baik.

Sudah hampir sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta, namun saya tidak pernah mengalami bencana banjir sekalipun. God forbid saya juga belum pernah terjebak dalam bencana banjir apapun di jalan-jalan di ibukota, sebab saya selalu memantau informasi yang diberikan dari radio sebelum beraktivitas di luar rumah atau di luar kantor.

Sepanjang puasa ramadhan yang lalu saja, kota kelahiran saya diguyur hujan hampir setiap hari dan beberapa kali menyebabkan bencana banjir yang cukup parah. Informasi dari radio sangat membantu saya dan keluarga saya waktu itu untuk ikut mengantisipasi bencana tanah longsor (karena rumah kami di daerah ketinggian) sembari membantu keluarga kami yang rumahnya kebanjiran di beberapa titik di Kota Kendari.

Drama Seri Radio: Asmara di Tengah Bencana (sumber: BNPB)
Drama Seri Radio: Asmara di Tengah Bencana (sumber: BNPB)

Tidak hanya lewat siaran berita formal, radio kini juga hadir memberikan edukasi bencana lewat beragam program Sandiwara Radio. Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh mendengarkan Misteri Gunung Merapi dan Tutur Tinular di radio—keberadaan Sandiwara Radio yang edukatif adalah sebuah progres yang sangat mengagumkan.

Hal ini menurut saya sangat penting dan sangatlah membantu. Beberapa kali ketika saya berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Indonesia dimana internet dan siaran televisi masih belum terjangkau, siaran radio menjadi satu-satunya penghubung daerah-daerah itu dengan dunia luar. Informasi bencana banjir, gempa bumi, ataupun gunung meletus hanya diperoleh melalui siaran radio.

Dan kini warga di daerah-daerah terpencil itu bisa menikmati kehadiran program-program sandiwara radio seperti Asmara di Tengah Bencana yang dirilis oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Program-program siaran seperti itu akan memberikan edukasi yang sangat penting mengenai aksi sadar bencana kepada mereka, dan sekaligus siaran yang sangat menghibur dan bisa membudaya.

Dan itu mengingatkan kembali pada poin awal saya yakni, menjadikan aktivitas “mendengarkan radio” sebagai bagian dari budaya pribadi dalah kuncinya. Selama itu tetap dilakukan, maka peran radio sebagai penyalur informasi dan untuk menumbuhkan kesadaran dalam siaga bencana kepada masyarakat—akan tetap terlaksana dengan baik.

Tantangan utama bagi pemerintah (BNPB) dan penyelenggara program penyiaran adalah untuk menciptakan program-program radio berkualitas yang menghibur, tetapi juga edukatif dan informatif. Dan kehadiran kembali sandiwara radio bisa menjadi salah satu langkah awal yang nyata untuk mewujudkan itu.