Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Guru, Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Organisme Sedekah vs Industri Sedekah

21 Juni 2017   03:56 Diperbarui: 21 Juni 2017   22:18 1174 3 1
Organisme Sedekah vs Industri Sedekah
https://mielidigila.blogspot.co.id/

Adalah Rajib Thomas atau yang sering disapa Reji, lalar gawe mengadopsi 22 anak penderita HIV. Bermula dari pertemuannya dengan seorang anak penderita HIV di rumah sakit yang meminta mie kepadanya. Reji tidak membawa mie. Ia berjanji akan kembali dan membawakan mie untuk anak itu.

"Hari berikutnya saat aku kembali, anak itu ternyata sudah meninggal,” tutur Reji. “Saya hancur sekali mendengar kabar tersebut. Sejak itulah saya beryakinkan diri untuk melakukan sesuatu pada anak-anak ini.”

Divya Mithale, spesialis HIV/AIDS, menyetujui permohonan Reji yang ingin mengadopsi anak-anak itu agar tinggal bersamanya di Mumbai. Bukan awal yang mudah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hingga donasi dari mereka yang bersimpati kepada Reji mengalir. Anak-anak penderita HIV hidup bersama keluarga baru—berbahagia dan memiliki tujuan hidup.

Pada skala berbeda, sahabat saya, Kang Junaidi dan Kang Izar, melakukan lalar gawe yang lain: mengasuh anak-anak dusun terpencil di pesisir selatan Kabupaten Malang. Tidak ada woro-woro alias pengumuman. Pengabdian terus dijalankan. Akses jalan yang sangat sulit, listrik yang belum masuk dusun, pola pikir warga dusun yang belum tersentuh pembangunan menjadi tantangan yang tidak mudah ditaklukkan.

Entah dari mana asalnya, beberapa kali kedua sahabat saya didatangi orang gila. Baik gila beneran maupun mereka yang tersesat di belantara pencarian hakekat spiritual. Orang-orang itu srawung bersama tamu-tamu “normal” lainnya.

Beberapa hari lalu saya dapat kabar, salah satu anak asuh mereka, masih sangat muda, membawa lari motor satu-satunya Kang Junaidi dan sejumlah uang. “Semoga motor dan uang yang dicuri, menjadi jalan pertaubatan bagi anak itu,” kata Kang Junaidi.

Ada jutaan orang menempuh jalan sunyi seperti Rajib Thomas, Kang Junaidi, Kang Izar. Kesulitan hidup dan keterbatasan finansial tidak mematahkan niat mereka untuk peduli dan berbagi dengan sesama. Jalan sunyi—jalan yang mereka tempuh benar-benar sunyi, sesunyi lubuk hati mereka, memelihara ketulusan niat, menegakkan tonggak komitmen. Kalaupun ada orang lain bersimpati lalu mengulurkan sejumlah bantuan, saya yakin, itu berkat hidayah Tuhan.

Saat engkau bersedekah tangan kiri jangan sampai tahu, demikian nasehat yang kerap kita terima. Mereka yang menempuh jalan sunyi itu—merawat anak-anak HIV, mempelopori pendidikan anak-anak dusun, merawat orang gila atau mereka yang tersesat jalan—dijalaninya dengan kesadaran tangan kiri jangan sampai tahu.

Biasanya mereka enggan menyodorkan proposal bantuan, karena keyakinan Gusti Allah mboten sare merasuk di kalbu. Tidak berarti mereka tidak mau dibantu—martabat dan harga diri di depan Tuhan Yang Maha Pemurah berdengung-dengung. Mereka tidak menjadi peminta-minta untuk membantu mereka yang memerlukan pertolongan.

Lantas, apakah Tuhan diam saja dan menelantarkan para pejalan sunyi itu? Pasti tidak. Sejuta simpati dan bantuan mengalir. Namun, semua itu tidak dijadikan tujuan dan aset memperkaya diri. Mereka hidup secara apa adanya, bukan karena pamrih keuntungan materi yang ada apanya.

Manusia pengabdi dan pejuang seperti mereka adalah organisme yang terus tumbuh di tengah kebudayaan industri bersedekah yang dilembagakan oleh formalisme organisasi. Organisme itu akan terlihat kecil, remeh, berserakan di hampir setiap tanah bumi Nusantara. Sementara organisasi dan lembaga sedekah akan saling berlomba meningkatkan image dan branding sebagai pihak yang layak dan paling terpercaya.

Saya tidak mengklaim organisme bersedekah lebih tulus daripada organisasi sedekah. Namun, di bulan Ramadan kita sering menyaksikan parade sedekah yang kadang over-acting. Organisasi atau lembaga sedekah lebih menonjol dari substansi-rahasia ibadah sedekah itu sendiri. Yang primer adalah image dan branding lembaga. Industri sedekah merebak di taman materialisme.

Baiklah, kita memang harus berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khoirot. Namun, dalam konteks ibadah, lembaga sedekah jangan diposisikan dan diperlakukan sebagai hal yang primer. Pengelola lembaga sedekah tak ubahnya pengurus takmir masjid—yang pasti primer adalah shalat berjamaah. Perkara shalat di masjid, mushola, atau di rumah pada kadar dan situasi tertentu orang tidak memerlukan mobilisasi. Pada kesadaran yang hakiki, di mana engkau bersujud, di situ masjid terbangun dalam ruang jiwamu.

Lembaga sedekah ibarat selang air—penghubung antara mereka yang bersedekah dengan orang yang disedekahi. Kesucian dan kebersihan air adalah substansi-kualitatif yang pertama kali harus dipastikan oleh mereka yang bersedekah dan lembaga yang menyalurkannya. Lembaga sedekah jangan berbangga hati ketika misalnya, menyalurkan bantuan untuk seratus masjid dari seorang koruptor. Kita tidak sedang berbagi kemudaratan dengan cara yang Islami.

Khasanah tasawuf melambangkan sedekah dan zakat seperti air susu. Kambing tidak meminum sendiri air susu yang dikeluarnya. Demikian pula lembaga sedekah yang berkembang menjadi industri sedekah—kita harus cermat menata niat dan teliti memilah antara ghayah (tujuan) dan wasilah (sarana), agar tidak meminum jatah air susu milik orang lain. Sayangnya, industri sedekah menggeser dirinya dari wasilah menjadi ghayah.

Alkisah, seorang kaya menyamar jadi pengemis. Ia berjalan-jalan di pasar sambil membawa sekarung penuh berisi uang. Di tengah kerumunan orang di pasar, pengemis pura-pura terpeleset dan jatuh. Uang dari dalam karung berhamburan. Spontan uang itu jadi bancakan orang-orang di pasar. Uang tak tersisa lagi. Pengemis kita menangis sangat keras.

Salah seorang di pasar mengetahui penyamaran itu. Ia bertanya mengapa mau melakukan perbuatan konyol itu? “Aku menangis sejadi-jadinya agar mereka tidak tahu aku sedang bersedekah,” jawab pengemis kaya.

Untung, zaman itu belum ada media sosial, sehingga pengemis tidak memotret aksi tangisnya lalu menulis, “Ikhlas adalah pura-pura menangis untuk menyembunyikan niat yang tulus.” []

menjelang sahur, jagalan 21.06.17