Kang Aboe
Kang Aboe profesional

Mau santai boleh, mau serius juga boleh....

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Analisa PESTEL: Akankah Starbucks Tumbang di Indonesia Sebagaimana Seven Eleven?

1 Juli 2017   02:23 Diperbarui: 1 Juli 2017   03:15 2354 0 0

Berita gulung tikar nya Seven Eleven di Indonesia dan seruan boikot terhadap kedai kopi franchise Starbucks lagi ramai dibicarakan dan dikomentari di lini masa sosial media. Ada apakah gerangan dengan dua korporasi dan brand besar ini?. Kenapa Seven Eleven sampai kalah bersaing dan akhirnya angkat kaki dari Indonesia atau  akankah seruan boikot terhadap starbucks karena kebijakan CEO nya,  Howard Mark Schultz, yang mendukung LGBT membawa dampak buruk bagi brand dan profit perusahaan di Indonesia?

Saat ini,  sebuah bisnis yang hanya mengandalkan keunggulan produk dan harga yang bersaing saja dianggap tidak cukup untuk membuat sebuah perusahaan tumbuh dan berkembang. Begitu juga bagusnya layanan dan strategisnya lokasi tidak pula menjamin sebuah perusahaan akan bertahan lama.

Dalam dunia bisnis, selain faktor internal  diatas, keuntungan dan kelangsungan sebuah bisnis juga sangat dipengaruhi oleh faktor faktor di luar kualitas produk, segmentasi pasar  dan positioning produk. Ilmu Marketing merangkum faktor faktor eksternal yang mempengaruhi sebuah bisnis itu dalam sebuah analisa yang dinamakan PESTEL (Political, Economic, Social, Technological, Ethical/Environmental, Law/Legal) atau faktor Politik, Ekonomi, sosial, Teknologi, Lingkungan, Norma dan Hukum.

Kita mungkin masih ingat akan merk kamera Kodak dan HP Nokia atau Blackberry, hanya untuk menyebut sebagian brand dan korporasi besar yang sedang leading di masa nya tapi akhirnya kalah bersaing dan gulung tikar karena manajemen perusahaan kurang memperhatikan dan mengantisipasi faktor eksternal yang berkembang di luar produk mereka, yaitu perkembangan teknologi. Kodak kalah sama produk kamera digital, Nokia dan Balckberry nyungsep oleh kehadiran IPhone dan Smart Phone Android. 

Kasus tutupnya Seven Eleven di Indonesia ini juga disinyalir karena kurang sigapnya manajemen SEVEL Indonesia mereposisi nature business perusahannya akibat keluar nya Peraturan Pemerintah Indonesia yaitu  Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 yang melarang penjualan bir di mini market. Udah bukan rahasia lagi, kenapa Sevel ramai, karena mereka berhasil membidik segmen pasar anak gaul atau tongkrongan. Sevel identik dengan tempat ngumpul anak muda sambil minum bir  atau  tempat nongkrongnya anak muda berjam jam  sambal menikmati WI-FI gratisan dengan laptop atau gadget nya hanya dengan modal  membeli sebuah minuman. Ketika keunikan dan daya tariknya hilang akibat berlakunya peraturan pemerintah Indonesia, maka bisnis SEVEL pun mulai meradang dan akhirnya harus gulung tikar, angkat kaki dari Indonesia.

Lalu bagaimana dengan nasib Starbucks dan isu dukungan CEO nya terhadap Kaum LGBT?. Di Indonesia atau belahan dunia lainnya, isu LGBT ini  masih dianggap taboo atau sensitif dan dipandang melanggar norma dan nilai nilai sosial yang berkembang di masyarakat. Masyarakat mungkin masih menerima keberadaan mereka sebagai komunitas yang hidup  ditengah-tengah masyarakat. Tapi untuk mengakui hak hak mereka lebih jauh dan diakui secara hukum seperti pernikahan sejenis sepertinya masih sulit diterima dan diwujudkan. Bukan hanya akan mengalami penolakan dan kontoversi , tapi juga akan  menimbulkan friksi dan kekerasan di masyarakat.

Nah, kasus Starbucks dan LGBT ini agak unik. Kebijakan CEO nya bukan hanya akan menimbulkan penolakan dari sebagian pelanggan penikmat kedai kopinya, juga para pemilik sahamnya.  Statemen Schultz yang mempersilahkan para pemegang saham dan lisensi franchise Starbucks angkat kaki dari perusahaannya jika tidak sejalan dengan kebijakan dia mendukung kaum LGBT, tentu saja akan berdampak terhadap kelangsungan bisnis Starbucks di Negara-Negara yang memandang masalah LGBT ini sebagai perbuatan yang dilarang norma sosial dan melanggar hukum negara.   Apalagi kalau isu ini  digoreng secara politik sehingga mengakibatkan pemerintah mengeluarkan kebijakan penutupan gerai starbucks, karena dianggap menyebarkan faham yang tidak sejalan dengan norma dan pandangan hidup masyarakat dan negara. Suatu hal yang bisa saja terjadi dan mungkin seperti halnya kasus SEVEL. Nah gak tahu deh, nasibnya Starbucks di Indonesia kelak kemudian hari, kita tunggu saja perkembangannya. 

Para manajemen dan pengambil keputusan pada sebuah perusahaan seharusnya tidak menganggap enteng isu - isu faktor eksternal yang berkembang di masyarakat. Salah langkah dalam menanggapi  isu politik, sosial,norma dan hukum sama saja sebuah Harakiri, bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan sebuah bisnis, malah bisa bikin perusahaan bangkrut . Nah loh.....